Aku,
yang baru pertama kali mengamatinya secara khusus, tidak memiliki informasi
apakah ia menyukai makanan itu atau tidak, juga apakah ia bisa makan sendiri
atau tidak. Rasa penasaran mendorongku menghampirinya lalu menanyakannya pada
salah seorang guru. Menurut guru itu, G pernah makan bubur kacang hijau
sebelumnya. Guru itu langsung menyuapkan sendok berisi bubur ke dalam mulut G
dan G menerimanya. Dua kali G disuapi. Pertanda bahwa G bukan tidak suka
makanan itu.
Saat
aku kembali duduk tak jauh dari mereka, kutemukan lagi G menyendok bubur tanpa
memakannya. Muncul kecurigaan, mungkinkah ia belum tahu cara mengarahkan sendok
ke mulutnya. Hal ini mungkin terjadi mengingat koordinasi penglihatan dan
gerakan tangannya yang masih berkembang, sehingga ia belum bisa memperkirakan
jarak antara gelas dan mulut. Kuhampiri lagi G, kali ini kubantu ia mengangkat
tangan kanannya yang memegang sendok dan mengarahkannya ke mulutnya. Hanya satu
kali, lalu kulepas G untuk melakukannya sendiri.
Kuperhatikan
G dari tempat dudukku. Beberapa kali ia sudah bisa menyuapkan bubur kacang
hijau ke dalam mulutnya, tetapi dengan kedua tangannya. Jadi, tangan kanan
mengangkat sendok berisi bubur dan jari-jari tangan kirinya mendorong ujung
sendok agar masuk ke dalam mulutnya. Pemandangan ini saja sudah membuatku
takjub. Dari mana ia mempelajarinya? Yang jelas, ia sudah bisa memperkirakan arah sendoknya. Selanjutnya aku menyaksikan kemampuan belajar yang luar biasa dari
seorang anak batita ini. Tak lama berselang, G sudah bisa menyuapkan bubur
dengan hanya menggunakan tangan kanannya. Berkali-kali ia menyendok bubur
kacang hijau itu hingga habis setengah gelas tanpa peduli bahwa teman-teman
lainnya tengah berlarian kesana kemari dan guru-guru mengumumkan waktunya
pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar