Tidak perlu tanda tanya karena tak perlu dipertanyakan
Tidak perlu tanda seru karena tak diperlukan perintah atau paksaan pun ancaman
Tidak perlu tanda koma karena cinta justru membangunkanmu dari koma
Tidak perlu tanda titik karena cinta tak semestinya diakhiri
***
11 Juli 2015
cinta tanpa tanda baca
by
mia marissa
at
9:41 PM
0
responses
29 Juni 2015
perihal seleksi karyawan
Beberapa kali membuat
laporan evaluasi tes psikologi untuk seleksi karyawan mengantarku pada
pemikiran lain. Ah, ya, kujelaskan singkat dahulu apa yang kukerjakan. Aku
menerima berkas hasil tes psikologi lalu kubuatkan laporannya. Kadang ada yang
sudah disertai saran dari supervisorku, apakah pelamar yang dites ini
disarankan untuk diterima bekerja, dipertimbangkan, atau ditolak. Kadang aku diberi kepercayaan untuk menuliskan saran tersebut dengan tetap
disupervisi.
Pengalamanku belum banyak
di bidang ini. Aku tergolong pemula di ranah rekrutmen dan seleksi karyawan,
setelah sebelumnya lebih berkecimpung dalam dunia pelatihan atau
training. Beruntung, aku masih di bawah supervisi dalam melakukan
diagnosis dan mengambil keputusan terhadap lolos-tidaknya calon karyawan. Di
satu sisi, melakukan diagnosis itu pekerjaan yang menyenangkan buatku. Seru,
mungkin bisa dibilang begitu, ketika mendinamikakan kepribadian dan menemukan
benang merahnya. Ya, kalau jadi terbayang gambaran umum pribadinya memang
menyenangkan, tapi kalau tidak, memusingkan juga…hehehe. Di sisi lain, menetapkan
saran untuk merekomendasikan atau menolak seseorang bekerja di suatu
perusahaan, ini bagian yang sejak lulus S1 Psikologi kuhindari, sehingga aku
memilih bidang pelatihan. Dan, dengan kapasitasku sekarang, aku diharapkan
dapat memberikan saran terbaik perihal seleksi karyawan ini, untuk kemaslahatan
kedua pihak, perusahaan dan karyawan. Bagi perusahaan, mereka bisa langsung
memanfaatkan laporan evaluasi tersebut sebagai bahan pengambilan keputusan.
Lalu bagaimana dengan pelamar atau calon karyawan? Ada beberapa perusahaan yang
memberikan feedback, tetapi banyak pula yang tidak. Yaa, pekerjaan untuk
mengurusi karyawan mereka saja sudah banyak, mungkin itu pertimbangan efisiensi
mereka.
Jadi, sudah beberapa kali
aku terusik ketika menghadapi laporan psikologi yang kubuat, yang berujung pada
saran “menolak”. Biasanya, itu terjadi karena aku menyayangkan adanya potensi
cerdas yang kurang didukung dengan sikap kerja yang baik, atau potensi cerdas
yang karena kurang didukung kebiasaan belajar atau upaya pengembangan diri,
potensinya menjadi tidak berkembang.
Contoh saja ya, ada seseorang yang cerdas secara intelektual. Dalam bekerja, ia cenderung bertindak “semau gue”, kalau suka dikerjakan, kalau tidak, ya, tidak dikerjakan. Tidak suka keteraturan. Selain itu, kurang memiliki daya tahan untuk bekerja hingga tuntas. Dengan begini saja, dikhawatirkan ia tidak selalu mampu memenuhi jadwal pekerjaan atau target. Keinginannya sangat besar untuk pamer atau unjuk kemampuan. Apabila melakukan kesalahan, ia tidak mudah mengakuinya. Sayangnya, ia juga sulit menyelami sudut pandang dan perasaan orang lain. Bisa dibayangkan bagaimana kontribusinya dalam tim? Bagaimana pula seandainya ia diplot sebagai pemimpin?
Contoh saja ya, ada seseorang yang cerdas secara intelektual. Dalam bekerja, ia cenderung bertindak “semau gue”, kalau suka dikerjakan, kalau tidak, ya, tidak dikerjakan. Tidak suka keteraturan. Selain itu, kurang memiliki daya tahan untuk bekerja hingga tuntas. Dengan begini saja, dikhawatirkan ia tidak selalu mampu memenuhi jadwal pekerjaan atau target. Keinginannya sangat besar untuk pamer atau unjuk kemampuan. Apabila melakukan kesalahan, ia tidak mudah mengakuinya. Sayangnya, ia juga sulit menyelami sudut pandang dan perasaan orang lain. Bisa dibayangkan bagaimana kontribusinya dalam tim? Bagaimana pula seandainya ia diplot sebagai pemimpin?
Lantas, apakah para pelamar ini kemudian tahu tentang evaluasi kepribadiannya yang menyebabkan mereka tidak lolos
seleksi? Ya, itu tadi, mereka tidak selalu mendapat kesempatan untuk mengetahuinya.
Dengan berbekal ketidaktahuan, mereka mungkin tetap mengikuti tes seleksi di
perusahaan yang lain, bermodal hafalan jawaban dari buku latihan psikotes yang
sekarang sangat menjamur, yang tetap tidak mengubah cerminan
kepribadiannya. Ketika suatu saat ia diterima bekerja, tak jarang muncul
ketidakpuasan, misalnya, merasa pekerjaannya tidak sebanding dengan impiannya,
atau menemukan kesulitan dalam beradaptasi, dan sebagainya. Mereka yang
berhasil melalui kesulitan-kesulitan ini, tentulah karena beroleh kesempatan luar
biasa untuk mengenali dan mengembangkan dirinya, berani menempa diri untuk menerima keadaan dan meningkatkan kemampuannya
(menerima apa yang tidak mampu diubah dan mengubah apa yang mampu ia ubah).
Sampai sini, bagaimana
kulanjutkan tulisan ini? Banyak harapan yang bermunculan terhadap lembaga yang
mengeluarkan hasil pemeriksaan psikologis, terhadap para pelamar kerja, dan perusahaan. Tapi, akan lebih konkret untuk meniatkan diri bekerja dengan
sebaik-baiknya dan bertanggung jawab terhadap-Nya yang "menitipkan" persimpangan hidup mereka di jalanku.
by
mia marissa
at
9:31 AM
0
responses
10 Juni 2015
Jujur
Syarat pertumbuhan adalah jujur pada diri sendiri. Barangkali ada syarat lainnya, tapi kali ini tentang jujur. Seperti pohon yang dengan jujur menghadapkan tubuhnya pada cahaya matahari, ia bertumbuh ke atas, atau menyamping, agar pucuk-pucuk pertamanya menerima hangat matahari. Bunga matahari tidak memalingkan wajahnya dari sang surya, sadar bahwa ia juga membutuhkan cerah yang lebih cerah dibandingkan cerah mahkotanya sendiri.
by
mia marissa
at
7:31 AM
0
responses
Label: learning
28 April 2015
cahaya
Aku selalu suka langit
cerah. Sama sukanya juga dengan langit mendung. Yang kutuliskan kali ini
tentang langit cerah. Saat langit cerah, cahaya matahari menerpa semua
permukaan benda. Warna-warna mereka memancar keluar seraya memantulkan warna
kuning cerah. Hijau daun-daun yang rimbun di kepala pohon tampak lebih hijau.
Atap rumah merah berkilat. Langit benar-benar bersih biru mudanya. Jalan
beraspal tampak keemasan.
Apa yang membuat mereka
tampak cantik? Permukaan mereka menerima cahaya matahari sepenuhnya, tanpa
terhalang awan, kabut, juga udara yang berpolusi. Kecantikan mereka semakin
terlihat karena terpapar cahaya. Para pegiat fotografi pasti sepakat: melukis
dengan cahaya. Itulah mengapa di studio foto, mereka memasang banyak sekali
lampu, agar keindahan setiap sisinya tertangkap mata kamera.
Keindahan semakin tampak
karena ada cahaya.
Bukan berarti keindahan tidak ada, tetapi semakin tampak karena
Cahaya. Biarkan hidup ini terpapar Cahaya sepenuhnya, memantulkan Cahaya kepada
sekitar.
Kecantikan semakin terlihat
karena ada cahaya.
Jadilah cahaya yang mempercantik sekitarmu, yang mendorong
kecantikan mereka memancar.
*
Aku selalu suka pagi yang
cerah, menumbuhkan semangat mengawali hari. Sama sukanya dengan langit sore yang
cerah, cahaya kuning-jingganya lagi-lagi memapar daun-daun, menciptakan siluet
pohon.
by
mia marissa
at
7:35 AM
0
responses
11 Maret 2015
Sunset
Menjumpai pemandangan matahari terbenam pada tujuh hari berturut-turut mengantarku pada sebuah pemahaman.
Apa bedanya, sunset di pantai dan di gunung? Tanyaku
pada seorang sahabat, apakah beda, sunset
di Pantai Triangulasi, Pantai Pulau Merah, dan Pantai Kuta? Apakah beda, sunset yang dipandang dari bumi dengan
di atas awan?
Mengapa orang mengejar sunset di Kuta? Benar-benar harus
memandangnya di Kuta, bukan di pantai selatan Jawa. Yang pernah kusaksikan,
pemandangan langit senja kemerahan di atas Stasiun Bogor maupun di balik gedung
perkantoran Jakarta juga tak kalah cantiknya.
| Taman Nasional Baluran (dok.pribadi) |
| Taman Nasional Baluran (dok. pribadi) |
![]() |
| Pantai Triangulasi, Taman Nasional Alas Purwo (dok. pribadi) |
![]() |
| Pantai Pulau Merah (dok. pribadi) |
![]() |
| Pantai Pulau Merah (dok. Awesome Trip) |
![]() |
| Pantai Kuta (dok. pribadi) |
Kudapati keindahan setiap
tempat wisata yang menawarkan sunset tidak
terpaku pada pemandangan matahari terbenamnya. Mataharinya toh tetap sama, namun
pemandangannya tak pernah sama.
Ketika yang dinanti
adalah sunset, yang indah justru
semburat merah dari balik perbukitan karena mataharinya sendiri tertutup
punggung bukit.
Ketika yang dinanti adalah
sunset, yang menawarkan keindahan
justru pemandangan langit setelahnya. Menunggu beberapa menit kemudian, yang
terpampang adalah awan-awan bergulung kemerahan hingga ungu kebiruan.
Aku berani bertaruh, meski
tempatnya masih sama, sunset esok
hari menawarkan pemandangan lain yang berbeda. Awannya berbeda, warna langitnya
berbeda, pantulan air lautnya berbeda. Ini baru dari segi visual. Belum lagi
bila ditambah terik matahari, sepoi angin, deru ombak, dan sebagainya.
Seperti juga Taman
Nasional Baluran yang katanya lebih eksotis pada pertengahan bulan Agustus,
saat hampir semua tanaman berwarna kekuningan dan padang rumputnya menyerupai
padang Afrika. Pemandangan ini tak akan ditemukan di TN Baluran pada bulan
Februari yang memanjakan mata dengan rumput-rumput hijaunya.
Jadi, keindahan tempat
wisata bukan hanya lokasi, tapi juga perihal waktu, ya? Kalau begitu, setiap
tempat tak hanya menawarkan satu keindahan. Ia menawarkan 365 keindahan setiap
tahun. Bahkan lebih banyak lagi bila memperhitungkan keindahan yang dikandung
tiap menitnya.
Jika masih ada 364
keindahan yang belum teramati di satu tempat, mengapakah orang mencari
tempat-tempat baru untuk dijelajahi? Mengapa mencari kecantikan lain di
tempat-tempat lain? Sebatas pemenuhan checklist-kah?
Mengatakan begini, bukan berarti aku tidak sepakat dengan para pengejar matahari
di berbagai belahan bumi. Justru aku berterima kasih pada mereka yang menjadi
cerminan motivasi untuk menjelajah dan mengapresiasi keindahan semesta.
Hanya saja, perlu kusadari sungguh perihal
keindahan ini.
Agar aku
tak lupa bahwa keindahannya sudah ada kini dan di sini.
Sebelum aku
mencarinya ke tempat-tempat lain.
***
Pada setiap memandang sunset, juga semua pemandangan semesta
yang kutemui, hati ini hanya bisa berujar terima kasih, terima kasih, terima
kasih.
by
mia marissa
at
4:26 PM
6
responses
Label: awesome trip
Langganan:
Postingan (Atom)
Copyright © 2011 la mia opinione
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web




