Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

12 Maret 2024

Bimbingan di Penghujung Tesis

Obrolan pada suatu momen bimbingan tesis bersama Pak Gagan Hartana Tupah Brama, 16 Juli 2014.

“Jadi, apakah ada yang disebut kebenaran universal, Pak?” tanyaku saat sekali lagi menemui beliau di ruangannya.

Tidak ada. Kebenaran itu relatif, tegasnya. Setiap orang dengan latar belakang budaya, pendidikan, keyakinan, dsb memiliki kebenaran versinya sendiri. Sesederhana begini, lanjut beliau dengan mengajukan sebuah pertanyaan padaku.

“Bagaimana cara membuat air mendidih?” Kujawab, direbus. Dipanaskan.

“Bagaimana bila airnya diletakkan dalam gelas plastik ini?” tanyanya sambil tangan kirinya mengangkat sebuah gelas kemasan air mineral.

“Wah, ga bisa, Pak. Plastiknya lebur jika dipanaskan.”

“Ah, ya. Jadi tidak bisa, ya.”

Lalu ia melanjutkan penjelasannya. “Ada sebagian orang yang sangat yakin dengan pandangannya bahwa air akan mendidih hanya jika dipanaskan. Ya, itu benar. Namun, ada sekelompok orang yang mencoba cara lain, lalu menemukan bahwa air bisa mendidih ketika partikelnya digerakkan dalam kecepatan sangat tinggi. Teknologi itu kini bisa dinikmati di rumah-rumah pada umumnya, dalam bentuk microwave. Air yang dipanaskan akan mendidih, tetapi air tidak harus selalu dipanaskan agar mendidih. Inilah perbedaan paradigma. Dan perbedaan itu adalah karunia.”

 

Perbedaan adalah karunia. Hargailah perbedaan. Jangan berdebat, tetapi berpijaklah dari apa yang orang lain tahu.

 

Berdebat tidak akan ada ujungnya, bukan? Nah, lalu bagaimana menghubungkan pemikiran antarpemikiran? Ya, itu tadi, bicaralah dari apa yang orang lain ketahui, bukan dari apa yang saya tahu. Jika masing-masing orang berbicara hanya dari sudut pandangnya, bukankah tidak akan terjadi pertukaran informasi? Memang benar bahwa diperlukan empati, keterbukaan, dan kebesaran hati.

 

Hmm… aku masih penasaran. “Kalau begitu, Pak, dengan dialog dan keterbukaan, orang bisa saling menyatakan kebenarannya dan diperoleh titik temu atau jalan tengahnya?”

“Bukan seperti itu,” beliau mencoba menjernihkan pemikiranku. Kebenaran itu bergulir. Pandangan yang satu akan memperkaya pandangan yang lain, dan begitu seterusnya, menjadi inovasi. Saat mendengarkan penjelasan beliau, kubayangkan bentuk pertemuan antarpandangan itu seperti spiral DNA, yang berjenjang, terkait satu di atas yang lain, dan terus mengulir tanpa akhir.

“Coba perhatikan, adakah benda-benda yang kita gunakan yang bukan hasil inovasi?” tanyanya. Semua itu hasil inovasi nenek moyang kita. Pakaian ini, kancing ini, contohnya.

 

“Saya sudah pernah cerita, belum…?” Kutegakkan dudukku, siap mendengarkan cerita beliau berikutnya.

“Saat berlibur di salah satu pulau di Kepulauan Seribu, saya membawa pulang sebuah pepaya. Buahnya berukuran kecil, tidak seperti pepaya pada umumnya. Saat dikupas di rumah, terkejutlah saya karena isi buah itu seluruhnya biji, tanpa daging buah. Kulitnya pun sangat tipis. Buah itu saya bawa ke laboratorium MIPA, dan barulah saya tahu bahwa itu jenis buah pepaya murni. Aslinya pepaya, ya, seperti itu. Ilmu pengetahuan dan penelitian akhirnya menghadirkan buah pepaya dengan daging buah yang tebal, yang kita nikmati sebagai buah pepaya.” Lalu imajinasiku membayangkan perbincangan para ahli, mungkin berpuluh-puluh tahun sebelumnya, yang menguji coba berbagai kemungkinan  jaringan hingga menghasilkan daging buah pepaya. Wow.. betapa perbedaan justru menciptakan inovasi baru dan bermanfaat. Pak Gagan melanjutkan, jangan-jangan kita ini hanya sebagai generasi yang menikmati kreasi dari para leluhur dan belum berkontribusi apa-apa pada kehidupan sekarang maupun untuk kehidupan generasi berikutnya. Hmm…iya juga.

 

Beliau melanjutkan lagi. Dalam Al-Qur’an tertulis, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Ketika sudah sampai di Cina, pepatah di sana malah mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit. Bangsa Cina sangat menghormati leluhur. “Ajaran ini mengajarkan kerendahan hati,” jelasnya. Dalam menghadapi perbedaan, yang diperlukan adalah kerendahan hati dan tidak merendahkan pihak lain. Bersikaplah rendah hati.

 

Dengan menyadari bahwa tidak ada kebenaran mutlak, bahwa kita akan selalu menemui perbedaan, maka pesan untuk rendah hati menjadi begitu kuat dan mengena untukku. Pesan berharga yang amat disayangkan jika tidak kubagi pada orang lain.

 

“Tetapi…” Beliau seperti teringat sesuatu. “Ada satu yang universal, yang dimilki setiap manusia, yang berlaku sama pada setiap manusia. (Ia adalah) Hati nurani." Hati yang akan sama-sama terusik, sama-sama tergerak. Terhadap apa? Setiap kita pasti bisa menjawabnya :)


18 Maret 2022

Tragedi Chernobyl dan Reputasi yang Dipertaruhkan

(Tulisan ini merupakan hasil refleksi berdasarkan film miniseri HBO berjudul “Chernobyl” yang saya tonton beberapa waktu lalu.)


Sebagian dari kita mudah merasa terancam oleh penilaian orang lain terhadap hasil kerja kita. Misalnya begini,  

A: “Prosesnya ini memang lama, ya?”

B: “Sudah saya awasi terus, kok, dari pagi tadi. Sampai-sampai saya telat makan siang.”

Atau mungkin ditanggapi B dengan, “Kalau mau cepat, minta bantuan jin aja.”

Mungkin Anda geleng-geleng merespon keanehan dua tanggapan tersebut karena tidak nyambung dengan pertanyaan. Pertanyaan yang sebenarnya hanya butuh dijawab “ya” atau “tidak”. Akan tetapi, yang ditanya pada contoh ini mudah sekali tersinggung, mungkin merasa dirinya tidak dipercaya, atau merasa diremehkan, sehingga memberi tanggapan membela diri atau tanggapan sinis.

Anda mungkin geleng-geleng keheranan dengan contoh tadi. Atau, apakah malah kondisi ini mencerminkan pengalaman Anda juga? Merasa ditekan atasan di kantor, direndahkan pasangan, dianggap tidak mampu oleh rekan. Menjadi bias karena penilaian yang keliru terhadap orang lain.

Situasi ini jelas bisa memperkeruh suasana. Bahkan bisa membahayakan ketika berdampak pada tindakan kerja, seperti yang dialami para staf di ruang kendali PLTN Chernobyl pada 26 April 1986.

“Dasar bodoh! Kamu melakukan kesalahan.”

“Kau kebingungan! Reaktor tidak meledak. Perkataanmu itu mustahil! Sebuah inti tidak bisa meledak. Pasti tangkinya.”

“Diam dan lakukan pekerjaanmu!”

Kira-kira semacam itu respon Anatoly Dyatlov sebagai atasan kepada stafnya. Langsung setajam itu. Menusuk harga diri mereka, tidak mempercayai mereka, mempermalukan di hadapan rekan kerja yang lain. Staf yang memberi laporan malah diragukan validitasnya, bahkan dianggap mengkhayal. Suaranya dinihilkan. Dan ketika staf lain mengajukan pendapat, ia dianggap melawan.

Benar-benar cara ampuh seorang atasan untuk membungkam pendapat bawahan yang berbeda, namun di sisi lain menjadi boomerang ketika dampak pengabaian ini sungguh berbahaya.

Sebenarnya apa yang membuat seorang atasan tidak mau mendengarkan bawahannya? Barangkali ego, barangkali ada reputasi yang dipertaruhkan apabila ketahuan bahwa ia salah dan gagal.

Sebagai pribadi yang keras dan tegas, dingin, berdedikasi, dan ingin tugasnya selesai, Dyatlov harus mempertanggungjawabkan hasil uji keamanan malam itu kepada atasannya. Ia sangat tidak bisa menoleransi kelalaian dan bawahan yang tidak kompeten. Kalau eksperimen itu tidak dilakukan atau tidak berhasil, bisa jadi ia khawatir hal itu mengancam kompetensinya dan mungkin, peluangnya untuk dipromosikan. Maka, fakta yang jelas-jelas ada, bahwa reaktornya telah meledak -dan ia sendiri pastinya mengetahui tanda-tandanya saat mengecek ruangan sekitar- ia tolak mentah-mentah. Ia pegang keyakinan palsu bahwa kondisi aman terkendali. Kita tidak benar-benar tahu alasan sikap dan perilakunya itu, semata karena kekerasan pribadinya atau mengandung kecemasan tingkat tinggi dalam situasi krisis. 

Sementara itu, di jantung pembangkit listrik itu, api telah berkobar-kobar, asapnya membumbung tinggi dan dentumannya telah membangunkan segenap warga pada dini hari itu.

Berapa harga yang harus dibayar atas kecerobohan kerja ini, termasuk politik, kebijakan, dan konstruksi PLTN yang berisiko? Sangat mahal. Pencemaran udara, tanah, dan air yang diperkirakan masih berdampak hingga 100 tahun. Tentu ada korban jiwa. Diperkirakan puluhan ribu nyawa (4.000-93.000) meninggal dan kenaikan drastis jumlah pengidap kanker, terutama pada anak-anak.

Tulisan ini tidak bermaksud mencari asal-muasal bencana dan siapa yang harus bertanggung jawab, karena biarlah mengenai hal itu, pembaca bisa mencarinya di tulisan-tulisan lain. Apalagi untuk mempersalahkan suatu pihak, saya tidak berhak. Tulisan ini sekadar memotret secuplik dari kisahnya.

Chernobyl pernah ada dan masih akan diingat dalam sejarah. Ia menjadi kenangan abadi (vichnaya pamyat). Menjadi pengingat bagi kita, setidaknya bagi saya pribadi, tentang poin berikut.

  • Senjata verbal kerap masih digunakan orang-orang dalam berelasi dengan rekan kerja, orang tak dikenal, bahkan bisa jadi dengan pasangan dan keluarga. Dengan senjata ini, orang membungkam lawan bicaranya agar keinginannya bisa terlaksana. Di sisi lain, senjata ini menghancurkan.
  • Salah satu human error dalam pekerjaan yang mungkin paling berbahaya adalah penyelamatan reputasi dan ego pribadi, yang membuat seseorang gelap mata sampai-sampai tidak mampu melihat fakta dan realita yang terjadi.
  • Dalam situasi krisis, atau mungkin dalam banyak persoalan, seringkali yang dibutuhkan adalah membuka mata dan telinga, untuk menyadari kebenaran yang jelas-jelas ada.

Sejarah adalah juga anugerah. Semoga kita yang menengok kepada sejarah bisa belajar dari cerita dan kenangan yang ada. 

02 Mei 2020

Pendidik Pekerti


Selama kita pernah menjadi murid, setidaknya ada satu guru favorit yang berjasa dalam perkembangan pribadi kita. Mereka bisa jadi guru yang lembut dan penyayang, guru yang humoris, guru yang jenius, atau guru yang killer. Biasanya yang berkesan untuk jangka panjang bukan materi yang mereka ajarkan, tetapi karakter guru tersebut yang berdampak pada diri kita.

Satu guru yang termasuk salah satu top of mind saya adalah Ibu Roslin, guru pelajaran seni musik di SMP. Beliau terkenal killer, gaung namanya membuat kami tegak siaga, bahkan sampai kepada kakak-kakak senior kami di SMA yang pernah mengenal beliau. Seperti suatu sengat yang membuat kami berubah tertib dalam sekejap, entah di ruang kelas ataupun di lapangan sekolah. Saya pun termasuk kalangan siswa yang duduk tegang selama mendengarkan pengajaran beliau di kelas, sambil mondar-mandir atau sesekali duduk di bangku guru, seraya menggenggam penggaris kayu.

Akan tetapi, perasaan tegang itu berangsur berubah menjadi kekaguman, yang membuat saya justru fokus mendengarkan wejangan beliau, sehingga banyak pesannya masih saya ingat hingga hari ini. Saya pun merasa beruntung memiliki waktu tambahan menerima pengajaran beliau karena saya mengikuti ekstrakurikuler koor (paduan suara) yang diasuh oleh beliau.

Sekali-kalinya saya pernah kena tegur langsung adalah ketika tanpa sengaja melangkahi tanaman. Jadi ada jalan masuk selebar satu meter dan di sebelahnya dijadikan lahan untuk tanaman hias. Bukannya berjalan di jalan masuk, saya ambil gampangnya saja melangkahi tanaman hias yang tingginya juga tidak sampai selutut saya. Ibu Roslin ternyata melihat itu, dan saya ditegur kenapa tidak lewat jalan masuk yang benar dan malah melompati tanaman. Sebenarnya beliau lebih banyak mengajar budi pekerti ketimbang seni musik itu sendiri. Untuk materi seni musik, kami diminta pentas vocal group setiap minggu. Kalau dipikir-pikir sekarang, justru sebenarnya momen tampil itulah menjadi jam terbang kami melatih kepercayaan diri.

Saya juga heran, apakah materi budi pekerti itulah yang menarik untuk saya simak setiap minggunya. Misalnya, ketika mendengarkan guru, kami dilarang keras sebentar-sebentar menengok ke luar pintu melihat siapa saja yang lewat di sana. Beliau bilang, kalau nanti jadi pekerja, tidak boleh sebentar ada apa tengok ke luar, ada suara tukang bakso, suara orang mengobrol, dsb. Kalau dipikir-pikir sekarang, benar juga, supaya kami fokus dalam belajar dan bekerja. Istilah psikologinya, selective attention, bisa memilah hal-hal yang menjadi perhatian kita. Yang tidak penting dan tidak relevan, ya tidak perlu diperhatikan.

Kalau diberi instruksi, tidak boleh bertanya ulang. Misalnya, ibu meminta tolong, “Nak, ambilkan lap di dapur.” Lalu, kita jawab, “Lap di dapur?” Wah, bertanya balik macam begini dilarang keras. Diberi instruksi kok bertanya balik, itu tidak sopan, kurang lebih seperti itu penuturan beliau. Artinya, lagi-lagi melatih fokus, karena kalau fokus mendengarkan, tidak perlu bertanya lagi, tetapi langsung laksanakan.

Khusus untuk koor atau paduan suara gereja, dilarang keras tengok-tengok ke deretan bangku umat, kipas-kipas, minum, apalagi mengobrol. Haha, ini terdengar kaku sekali barangkali, ya. Tapi itulah kekhidmatan yang beliau mau tanamkan kepada kami. Termasuk juga berjalan dan berdiri dengan tegak, serta posisi memegang buku lagu yang tepat.

Jika berusaha diingat-ingat, pasti ada banyak sekali ajaran beliau yang mungkin sekarang ini sudah terinternalisasi ke dalam karakter saya. Tiga tahun mengenal beliau justru tidak menganggapnya sebagai guru killer, tetapi saya mengingatnya sebagai guru favorit. Yang juga membuat saya mengidolakan beliau, karena suaranya yang merdu dan kepiawaiannya menjadikan suara-suara amatir kami sebagai remaja puber menjadi harmoni yang padu.

Malam ini, berita mengejutkan itu datang. Ibu Rosalin SB Pareira dipanggil Tuhan pada usia 84 tahun. Enam tahun lalu, 22 Februari 2014, tanpa sengaja saya pernah bertemu beliau dalam acara tahbisan uskup di Sentul. Beliau masih sehat, gagah, walaupun ingatannya mulai pudar selama berbincang. Beberapa tahun setelahnya beliau kembali ke kampung halaman di Ende. Kini jiwanya bernyanyi bersama malaikat di surga. Tepat pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020. Hidup baktinya sebagai pendidik pasti terus digaungkan melalui karya-karya anak didiknya.



17 Maret 2020

kembali ke dalam


Pernah ada masanya manusia bergerak tanpa batas. Dimudahkan menyeberang kota, melintasi benua.

Oleh satu orang saja, bisa tercipta lima atau tujuh lebih perjalanan. Ia berkendara ke kantor, memesankan ikan bakar delivery untuk ibunya di rumah, memesankan mobil penjemput untuk anaknya, berbelanja minyak sayur secara online, mengirim paket buku yang dititip kawan di luar kota, kemudian memanfaatkan tiket promo penerbangan ke Bangkok esok lusa. Semua perjalanan ini bisa terjadi dalam waktu hampir bersamaan.

Andaikan kesibukan di atas terjadi dalam waktu satu jam pada satu orang, bayangkan mobilisasi yang terjadi dalam satu hari oleh katakanlah satu juta orang yang menempati satu kota. Lalu kita multiplikasi dengan jumlah kota sibuk yang ada di bumi ini.

Seperti semrawut? Mungkin.

Pernah ada masanya manusia bergerak tanpa batas, dalam pikirannya. Memikirkan ini itu, persiapan nanti dan kelak, mengingat yang sudah dan lampau, menghitung waktu yang segera dan harus. Semua pemikiran ini bisa terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Belum lagi emosi yang menghentak, menarik, dan mengguncang. Bayangkan mobilisasi impuls saraf dalam otak manusia, kita.

Seperti berat, lelah, jenuh? Mungkin.

Pernah ada masanya manusia dibatasi ruang geraknya. Berdiam saja dulu, tunggu dulu, sabar dulu. Tunggulah di dalam. Ibarat penjinak bom, alam sedang mengurai, memilah, memutus kabel-kabel yang semrawut di luar sana. Mengutip tulisan seorang pastor di Wuhan yang beredar di grup media sosial beberapa hari lalu, “Semakin sedikit orang berada di jalan, hanya ada beberapa mobil yang berseliweran, udara semakin segar, kabut hilang, langit semakin cerah. Orang yang belum membaca selama bertahun-tahun akhirnya meraih buku di rumah. Orang tua berkomunikasi dengan anak-anak mereka.”

Pernah mendengar pandangan mikrokosmos dan makrokosmos? Dalam konteks hubungan manusia dan alam semesta, mikrokosmos adalah manusianya dan makrokosmos adalah alam, planet, bintang, galaksi (pembaca yang lebih paham, silakan mengoreksi saya). Keduanya memiliki koneksi yang erat sehingga apa yang terjadi di makrokosmos akan dirasakan dan berdampak pada mikrokosmos, begitu pula apa yang terjadi di mikrokosmos akan berdampak pada makrokosmos. Apa yang semrawut di luar, mungkin cerminan yang semrawut di dalam. Eckhart Tolle menyebutnya, "You are not IN the universe, you ARE the universe, an intrinsic part of it."

Pernah ada masanya manusia dibatasi sementara. Diajak untuk #dirumahaja. Ajakan yang bisa dimaknakan #kembalikedalam memeriksa, mengurai, memilah yang penting dan tak penting, memutus pikiran yang membebani, membenahi hal-hal yang selama ini ditunda, menghirup udara segar, memperhatikan yang sering terlewat begitu saja. Apa yang menyehatkan di alam mikro, menyehatkan di alam makro.



02 Februari 2020

menjadi kakak untuknya


Saya tidak menganggap diri saya sebagai kakak yang baik dan ideal. Ada tahun-tahun saat saya meninggalkan rumah untuk berkuliah di luar kota dan tidak hadir mendampingi adik-adik saya yang bertumbuh remaja. Lebih jauh lagi, meskipun ingatan masa balita saya pastinya samar-samar, rasanya saya juga tidak hadir intens pada bulan-bulan dan tahun pertama kelahiran adik saya. Pada waktu itu saya tinggal di rumah nenek. Kemudian masa kecil kami diisi dengan bermain bersama, pun bertengkar, berteriak, dan memukul. Tentu seiring usia, ada masa-masa kami membahas masalah, lalu saya yang mengambil peran menasehati karena disuruh orang tua, atau karena lambat laun menganggap itulah tugas kakak dan sebatas itulah pemahaman saya mengenai peran kakak pada waktu itu. 

Sebagai sulung, tidak ada role model secara langsung tentang menjadi kakak. Trial and error. Atau, trial and enough, saya menyingkir, membatasi diri, mengurus diri masing-masing saja kalau merasa semakin sulit menghadapi adik. Bukankah pola komunikasi pastinya berubah menyesuaikan dengan perkembangan pribadi? Gaya bicara pada adik yang masih anak-anak dengan adik yang remaja akhir tentunya berbeda. Nah pada masa-masa itu, menjadi individualis adalah perlindungan yang aman bagi kami masing-masing. Tidak banyak cerita yang dipertukarkan, momen adik kakak berkegiatan bareng setiap tahunnya bisa dihitung dengan jari. Segala sesuatu berjalan wajar, hingga saya menyadari bahwa kami sudah memasuki usia dewasa dan memulai kehidupan masing-masing. Seperti ada nada-nada penyesalan memang, tapi tidak bisa mengulangnya lagi, kan. Selanjutnya relasi saya dan adik-adik berlangsung baik dan berjarak, selama kami menjaga dan menahan diri untuk tidak menyinggung satu sama lain. Kalaupun hal itu sampai terjadi, biasanya berujung konflik saja.

Belum lama ini saya mengetahui bahwa adik saya membeli lemari dinding dan ia berencana memanggil teknisi untuk merakit dan memasangnya. Buru-buru saya mengusulkan diri untuk membantu merakitnya, karena menurut saya pekerjaan itu bisa dilakukan sendiri dengan mengikuti buku panduan dan prosesnya sungguh menyenangkan, seperti bermain puzzle atau lego. Sejak saat mengajukan diri itulah saya sudah meniatkan untuk melakukannya bersama-sama, menjalankan peran saya sebagai kakak yang mendampingi proses belajarnya.  Harapan saya ialah menghadirkan kepuasan yang ia rasakan ketika berhasil membuat sendiri, menghadirkan perasaan mampu yang menumbuhkan kebanggaan dalam diri, juga menunjukkan bahwa proses do it yourself ini seru dan menyenangkan.

Niatan ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Saya yang antusias dan penasaran mengamati petunjuk-petunjuk pada buku panduan serta ingin langsung mencobanya, perlu menahan diri untuk tidak melakukannya. Meskipun mungkin ia akan setuju saja jika saya langsung merakitnya, saya merasa perlu menghormatinya sebagai pemilik barang ini untuk mengetahui seluk beluk kepunyaannya. Bahkan saya ingin menunjukkan padanya sejak halaman pertama buku petunjuk.

Setiap petunjuk dari buku panduan sangat detil dan bertahap, membuat saya berkomentar bahwa orang awam pasti bisa mengikutinya. Hingga kemudian kami menemui kesulitan. Salah satu papan tidak bisa menempel rapat, seperti berjungkit. Saya mulai cemas karena jangan-jangan akan terpikir olehnya bahwa lebih baik memanggil teknisi jika sulit begini, dan ini baru pertama kalinya kami melakukan perakitan bersama. Kami mencoba berkali-kali, membongkar dan membaca lagi, hingga akhirnya ketemu sumber masalahnya. Gara-gara kami berinisiatif memasang duluan sepasang mur yang lain padahal belum diinstruksikan. Betapa semua tahap sudah sedemikian dipikirkan oleh pembuat panduan, dan momen ini menjadi contoh nyata untuk memperhatikan setiap instruksi dan saran yang sudah tersedia, karena pasti akan ada solusinya.

Selama pengerjaan, beberapa kali prosesnya terjeda karena ia perlu mengurus beberapa hal yang mendesak. Saya pun sengaja menghentikan perakitan juga dan daripada menganggur, saya membaca buku panduan hingga tiga-empat langkah setelahnya, juga mencoba-coba sendiri kemudian melepasnya lagi. Anda yang kenal saya pasti paham antusiasme saya mengulik sesuatu, yang kali ini perlu diredam.

Pernah satu kali ia tidak paham dengan petunjuknya, sehingga saya jelaskan kembali secara bertahap dan memvisualisasikannya, kemudian memintanya mencoba sendiri agar terbayang. Setelah yakin bahwa ia mengerti, baru kami beralih pada tahap berikutnya. Kendati demikian, ada tahap yang belum bisa dilakukan malam itu, namun secara umum perakitan sudah selesai.

Beberapa hari kemudian ia sampaikan bahwa pemasangan sudah tuntas dan ia bisa melakukannya sendiri. Dalam pesan tertulis ia sampaikan bahwa ia mendapat pelajaran baru, bahwa tidak semua hal harus bergantung pada orang lain dan selama bisa dikerjakan sendiri maka dikerjakan sendiri. Pemahaman ini, yang di luar ekspektasi saya, membuat saya bersyukur sekali untuk proses yang diupayakan agar terjadi, menghadirkan peran kakak yang mendampingi pengalaman belajarnya. 

Beberapa hari lalu ia berulang tahun. Selamat bertambah usia, Win. Selamat menikmati proses mendewasa. Terima kasih untuk mau belajar bersama. 


01 Januari 2020

Keluarga



Bolehlah tahun 2019 kemarin disebut sebagai tahun keluarga, dari sudut pandang saya pribadi. Tema-tema keluarga memenuhi sepanjang tahun, sejak awal hingga momen pergantian tahun dan hari pertama 2020 ini. Dimulai dengan menangani beberapa klien remaja pada awal, tengah, dan akhir tahun yang isunya seputar keluarga, sampai-sampai membuat saya perlu ikut workshop tentang family therapy, kemudian peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga inti maupun keluarga besar, di antaranya kelahiran anggota keluarga baru, pernikahan sepupu, berpulangnya seorang paman, kepindahan rumah, pembukaan usaha, serta liburan akhir tahun bersama keluarga besar. Sebenarnya saya tidak pernah secara khusus mengamati dan memberi tema untuk tahun-tahun yang saya lalui, tetapi kesadaran yang baru tampaknya membuat saya melihat sedikit lebih jelas ketika pada hari ini menengok ke belakang.

Saya tidak tahu mana yang lebih dulu hadir: apakah kesadaran ini sudah saya miliki lebih dulu sehingga bisa memaknai peristiwa yang terjadi, ataukah peristiwa-peristiwa ini yang menempa-membentuk saya sepanjang tahun dan memerasnya perlahan hingga muncullah titik-titik kesadaran. Kesadaran yang membuat saya melihat lebih jelas, meskipun masih sebagian-sebagian, bahwa relasi di dalam keluarga memang relasi yang unik, relasi yang tidak pernah bisa dipandang sama dan seragam meskipun beragam teori psikologi sudah merumuskannya.

Relasi yang hadir dalam wajah percaya sekaligus sangsi, rasa sayang sekaligus pedih, derai tawa sekaligus terasing, marah sekaligus iba, yang bisa juga ketus sekaligus cemas. Relasi yang pastinya sulit dipahami ketika dilihat hanya dari luar, dan lebih sulit lagi ketika mencoba menyelaminya. Karena pada saat bersisian langsung, berhadapan, berinteraksi, berkonflik, mendengar, menyaksikan, barulah bisa benar-benar paham, bahwa berempati terhadap karakter, terhadap perasaan terdalam seseorang, tidak semudah diucapkan, dan ini bukan sekadar memaklumi dan menoleransi. Kadang-kadang bukan soal perdebatan atau konflik, seringkali hanya hal-hal kecil dan sensitif. Nada suara, gestur, perlakuan, sorot mata. Pisau diasah oleh batu, manusia diasah oleh manusia lainnya. Dan tempat mengasah yang lebih tajam, biasanya di dalam keluarga. Prosesnya tidak selalu menyakitkan atau melelahkan, ada juga keseruan dan kegembiraannya.

Ada juga rasa haru. Pada penghujung tahun 2019, seorang klien yang sebelumnya mengalami masa sulit dalam relasinya dengan keluarga, menuliskan ini pada status Whatsapp-nya, “Banyak yang sibuk mengejar harta hingga melupakan keluarga. Padahal tanpa kita sadari keluarga ialah harta yang tak ternilai. Indahnya kebersamaan,” disertai foto keluarga duduk berangkulan di pantai. Awalnya diposting sang anak, hari berikutnya oleh ayahnya.

Kebersamaan identik dengan keluarga, meskipun mungkin keluarga tidak selalu identik dengan kebersamaan. Untuk mau bersama-sama, pasti ada sumbangan kesabaran, pengertian, pemaafan, penerimaan, kesediaan, dan upaya aktif menolong. Berbahagialah orang-orang yang ringan hatinya dalam mengupayakan kebersamaan, dan, ya, saya melihat langsung orang-orang semacam ini. Pada orang-orang yang merasa capek dan berat, tetapi tetap mau mengupayakannya, inilah anugerah.


1 Januari 2020
hari saat banjir menyambut awal tahun


09 Desember 2017

Perlukah peduli?

Bertemu dengan seorang asing dalam pertemuan yang tak disengaja, mungkin sering kita alami. Ada yang menjadi awal pertemanan baru, perjumpaan sementara, beberapa waktu, atau justru begitu saja berlalu. Ada juga yang sifatnya mendesak, menyerang, mengambil paksa milik kita. Ada yang mengibakan, perlahan menyentuh nurani, sehingga muncul keikhlasan untuk memberi. Memberi apa saja; waktu, perhatian, perkataan, materi, pun seucap doa dalam hati.

Barangkali ada dari kita yang pernah didatangi seorang asing dengan intensi meminta bantuan. Sekali dua kali pertemuan berisi kisah musibah ia tuturkan, kemudian hanya kita di sana yang mendengarkannya dan dipercaya bisa membantunya. Tak ada lagi orang lain. Kalaupun ada, ia berharap pada kita. Situasinya pun cukup genting, yang mau tak mau membuat kita berpikir, perlukah membantunya. Rasio ikut mendesak, tidak mau peduli bahwa hati sedang terombang-ambing; apakah orang ini dapat dipercaya? Benarkah semua yang diceritakannya? Mestikah saya yang membantu?

Bulan Desember ini, seperti juga terjadi pada tahun lalu, saya mengalami peristiwa serupa. Didatangi seorang yang semula asing, kemudian ia meminta bantuan. Mendesak, genting, penuh harap. Bukan permintaan yang sedikit. Saya tidak tahu bagaimana semesta bekerja, mempertemukan kami, juga pada waktu-waktu sebelumnya pernah mempertemukan saya dengan berbagai momen serupa, yang saat ini saya tidak ingat lagi persisnya. Ada kalanya, perjumpaan semacam ini menuntut pengambilan keputusan segera, antara membantu atau tidak membantu. Peduli atau tidak perlu peduli.

Bila mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang mungkin pada waktu itu tidak banyak berpikir tetapi langsung bertindak, kali ini saya banyak menimbang pilihan, menyelami persoalan dan konsekuensinya. Waktu yang diulur memungkinkan prinsip dan nilai hidup, serta memori dan suara dari dalam hati ikut bicara. 

Begitu riuh di dalam, justru kalimat ini yang muncul dalam pikiran, “(kebenarannya) Cuma dia dan Tuhan yang tahu. Tapi kalau itu benar adanya, ke mana aku yang malah abai pada sesama?”



*


18 Juni 2016

Piper

Sekawanan burung kedidi mendarat di hamparan pasir yang baru saja dibasuh ombak. Mereka mematuk mencari kerang untuk dimakan. Tak sampai semenit, ombak datang dan dengan sigap mereka terbang.


Di atas pasir lembut yang terlindung oleh sekumpulan rumput, seekor anak burung kedidi berkeciap-ciap. Warna bulunya putih berselimut abu-abu pada kepala dan sayapnya. Bola matanya bulat berbinar. Paruhnya kuning dan runcing. Ibunya baru saja meninggalkannya untuk mengambil kerang. Tapi kerang itu bukan untuk anaknya. Dengan anggukan kepala, ia panggil anaknya untuk mengikuti ia ke tepian pantai. 



Anak burung tidak tahu harus melakukan apa di pantai itu. Kerang kecil di paruh ibunya lagi-lagi bukan untuk anak burung itu. Sorot mata ibunya memandang ramah kepada anaknya, meyakinkan anaknya untuk mencoba sendiri mematuk kerang di atas pasir. Anak burung itu berusaha mematuk, namun belum-belum ia berhasil, gemuruh ombak sudah terdengar. Belum sempat pula ia paham apa yang terjadi ketika semua burung lainnya berlari dan mulai terbang. Langkah larinya masih pendek-pendek dengan wajah bingung dan mata mengerjap. Dalam hitungan detik, ia diguyur ombak. Melayang-layang di dalam air hingga terdampar di atas pasir. Saat terbangun, bulu-bulunya kusut. Sejak itu ia takut pada laut. Biarpun diajak kembali oleh ibunya, ia tetap memilih bersembunyi di balik rumput. Hingga akhirnya muncul bunyi keroncongan dari dalam perut. Ia mesti cari makanan! Maka ia beranikan diri melangkah mendekati laut. Setiap ada suara gemuruh, ia kembali ke balik rumput. Akhirnya tiba juga di tepian, sepertinya situasi tenang, ia mencoba mematuk. Rupanya ia berebut dengan dua kelomang yang juga mencari kerang. Dan….o’ow, ombak mendekati pantai. Anak burung diam terpaku. Ia bingung seketika. Dua kelomang langsung masuk ke dalam pasir untuk berlindung. Insting hidup mendorong anak burung itu untuk mengikuti cara kedua kelomang, membenamkan tubuhnya yang bulat itu ke dalam pasir. Hulp, ia bersembunyi. Lantas ombak memerangkap mereka. Pasir terangkat, begitu pula mereka. Anak burung kembali melayang-layang dalam air. Cukup dalam, cukup lama. Perlahan ia buka matanya. Takjub ia melihat ada begitu banyak kerang di dasar. Ketika air kembali surut dan ia terbangun, anak burung ini segera berdiri. Dengan penuh semangat, ia memasukkan paruhnya ke dalam pasir, tepat sasaran mematuk kerang! Tak hanya satu, ia patuk lagi dan lagi, seolah hafal posisi kerang-kerang itu di balik pasir hingga terkumpul banyak makanan untuknya dan ibunya. Burung-burung pantai yang lain ikut senang dan terbantu oleh anak burung itu. Ketika ombak bergulung kembali datang, anak burung segera membenamkan kepalanya di dalam pasir, menunggu rahasia kerang terkuak. Tanpa lelah ia mengumpulkan kerang. Ia kegirangan dengan keberhasilannya. Berhasil mengalahkan ketakutannya pada ombak. Berhasil menemukan cara efektif memperoleh kerang. Belajar hal baru dari kawan  yang berbeda.  


Piper”, sebuah film pendek karya Pixar.


Hingga usia sekarang ini aku masih menyukai gambar-gambar kartun atau animasi. Kini gambar-gambarnya semakin memanjakan mata. Efek visualnya menjadikan gambar menyerupai wujud aslinya. Lebih banyak sensasi yang dirasakan, terlebih emosi yang tersentuh karena visualisasi yang lembut, ekspresif, seperti nyata, dan banyak lainnya. Salah satunya film mengenai burung pantai yang tadi kuceritakan. Riak airnya sempat membuatku tersadar, apakah itu dari gambar atau nyata? 

Sempat heran, apa yang mendorong para senimannya membuat karya sedemikian indah? Dengan teknologi yang tentunya tidak sederhana, tidak murah, membutuhkan kesabaran untuk mengoreksi, sementara teknologi terus saja meningkatkan kemahirannya. Karya terbaik mereka tahun ini barangkali mudah dilupakan oleh orang dan oleh jaman yang semakin mampu menghasilkan efek visual yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Film pendek yang menjadi pembuka film utama ini barangkali diingat samar-samar kisahnya dibandingkan isi film utama yang dibicarakan oleh banyak penontonnya. 

Tentu ada spirit luar biasa yang mendasari para seniman ini. Tampaknya yang mereka berikan bukan sekadar warna dan efek visual. Bukan itu, karena warna dan efek bisa pudar oleh jaman. Sepertinya, yang mereka beri adalah nilai-nilai sejati kehidupan, yang mereka anggap baik untuk diteruskan kepada anak-anak, pun orang dewasa. Kepada setiap hati yang tersentuh. 

Biar nilai-nilai itu terus hidup, tak pudar, tak tergerus.   

03 Januari 2015

Permintaan apakah yang tepat?

Hari ketiga, bulan pertama, tahun baru. Masih hangat dengan resolusi, permintaan, dan harapan yang baru.

Adakah manusia terlepas dari permintaan? Sejak lahir kita hidup berdampingan dengan permintaan. Permintaan menjadi tanda geliat kehidupan manusia. Bayi yang menangis minta susu atau menangis karena kepanasan, yang jelas ia minta orang dewasa melakukan sesuatu terhadapnya, agar ia kembali nyaman, agar ia bisa mengatasi ketidakseimbangan tubuhnya.

28 Desember 2014

Sambil mendoakan penumpang yang hilang

Ketika ada berita bencana atau kecelakaan yang menyebabkan kehilangan, keluarga dan orang terdekat bergegas mencari informasi mengenai anggota keluarga yang mungkin menjadi korban.

Sambil mendoakan keselamatan para penumpang pesawat Air Asia berkode penerbangan QZ8501 yang masih dalam pencarian, saya bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah -ini hanya perenungan saya secara umum- ada penumpang yang tidak dicari oleh kerabatnya? Mungkinkah ada nama yang luput disebut di antara ratusan nama yang ditanyakan para keluarga di pusat krisis? Nama yang hanya tertera pada daftar nama penumpang? Nama yang datanya belum sempat dicatat oleh operator karena tidak ada penelepon yang menanyakannya?

19 Desember 2014

Tunggulah beberapa menit

Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam angkot yang segera menepi begitu melihat isyarat tanganku. Di dalamnya sudah ada 5 orang penumpang dengan formasi 2 orang duduk di bangku-empat dan 3 orang di bangku-enam. Mereka duduk berenggangan dan tidak ada yang bergeser saat aku masuk. Belum sampai pada bangku kosong paling belakang, mobil sudah bergerak maju, membuatku terguncang hingga hampir terjatuh jika tak segera kududukkan badanku di pojok bangku-empat. Umpatku dalam hati, kenapa, sih, orang-orang ini tidak menggeser duduknya. Kenapa, sih, supirnya tidak sabaran.

05 September 2014

karena ada kasus Florence Sihombing

Kita tidak harus disukai oleh semua orang, betul? 
Semua orang tidak harus menyukai kita. Sepakat? 
Begitu pula sebuah kota tidak harus disukai oleh semua orang, bukan?

Kisah postingan Florence Sihombing di media sosial cukup membuat geger beberapa waktu lalu. Bahkan dituding menyinggung SARA oleh beberapa LSM. Padahal, di mana SARA-nya, ya? Ia tidak membawa-bawa suku, pun agama. Juga tidak mengangkat soal ras. Atau, apakah yang dimaksud adalah menyinggung golongan? Tidak juga rasanya, karena ia mewakili dirinya sendiri. Benar, ia dianggap menghina Jogja sebagai ekspresi kekesalannya. Di mata masyarakat, menghina dipandang sebagai tindakan yang salah. 

Akan tetapi, bentuk kekesalan dan sinismenya pada Kota Yogyakarta bukankah serupa dengan bentuk komplain seorang suami pada masakan istrinya yang hambar? Atau seorang teman yang mengatakan bahwa penampilan kita berantakan? Umm, atau pengunjung resto yang mengumpat-umpat karena pelayanan resto yang tidak memuaskan? Termasuk juga adik kita yang tanpa kendali melontarkan kata-kata pedas dan tak pantas untuk menumpahkan kekesalannya saat curhat pada kita? Kalau demikian, apakah kita –atau siapapun yang merasa tersinggung- lantas membangun tembok tinggi mengelilingi diri dan mengusir siapa saja yang menurut kita telah menghina diri kita? Lalu, kapan kita bisa bertumbuh jika tidak menerima kritik? Kapan sang istri bisa memasak masakan lezat jika menutup telinga terhadap pendapat suaminya? Kapan juga kita bisa berpenampilan pantas jika abai terhadap komentar dari orang yang memperhatikan kita? 

22 Agustus 2014

Bimbingan di Penghujung Tesis

“Kebenaran adalah misteri. Pikiran bisa merasakannya, tapi tak bisa menangkapnya, apalagi merumuskannya. Keyakinan kita bisa menunjuk ke sana tapi tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Meski begitu, kita menjunjung tinggi nilai dialog yang paling-paling merupakan sebuah kamuflase untuk menyakinkan lawan bicara tentang kebenaran milik sendiri. Selain itu, dialog ini untuk menghentikan kita supaya tidak menjadi katak dalam sumur yang mengira tak ada dunia lain di luar sumur. Apa yang terjadi ketika katak-katak dari berbagai sumur berkumpul untuk membicarakan keyakinan dan pengalaman mereka? Cakrawala mereka menjadi lebih luas, meliputi keberadaan sumur-sumur yang lain. Namun, mereka masih tidak mengetahui keberadaan samudra kebenaran yang tidak bisa dibatasi dinding sumur pemahaman. Dan katak-katak malang kita terus terpisah-pisah serta berbicara berdasarkan milikmu dan milikku, pengalamanmu, keyakinanmu, ideologimu, dan ideologiku. Rumus yang digunakan bersama tidak memperkaya orang-orang yang menggunakannya, karena rumus sama seperti dinding sumur – memisahkan. Hanya samudra tak berbatas yang menyatukan. Namun, untuk sampai di samudra kebenaran yang tidak dibatasi oleh rumus-rumus, orang perlu punya karunia pemikiran jernih. “ (Anthony de Mello, 2011)

Kebenaran adalah misteri. Sambil membicarakannya, orang tetap terpisah berdasarkan pengalamannya, ideologinya, keyakinannya, dan seterusnya. Membaca kutipan di atas dari buku Anthony de Mello, The Way to Love, membuatku teringat obrolan pada suatu momen bimbingan bersama Pak Gagan Hartana TB, dosen pembimbing tesisku, 16 Juli 2014 lalu.

“Jadi, apakah ada yang disebut kebenaran universal, Pak?” tanyaku saat sekali lagi menemui beliau di ruangannya.
Tidak ada. Kebenaran itu relatif, tegasnya. Setiap orang dengan latar belakang budaya, pendidikan, keyakinan, dsb memiliki kebenaran versinya sendiri. Sesederhana begini, lanjut beliau dengan mengajukan sebuah pertanyaan padaku.

12 Juli 2013

Menyikapi kesalahan

Berbuat salah itu lumrah. Apa yang kamu lakukan jika berbuat salah?
  •          Menutupinya agar tidak diketahui orang lain
  •          Mengakuinya
  •          Melupakannya
  •          Berbohong
  •          Kabur
  •          Melemparkan kesalahan pada orang lain
  •          Mencari tahu penyebabnya dan memperbaikinya
  •     atau yang lainnya?

Ada banyak cara yang biasa kita lakukan dalam menyikapi kesalahan. Kesalahan itu sendiri ada banyak macamnya. Kesalahan yang disengaja dan tidak disengaja. Kesalahan sepele hingga kesalahan yang merusak, bahkan menyangkut nyawa. Kesalahan terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. Kesalahan yang mengandung hukuman dan yang bisa diabaikan. Tetapi, ada pula kesalahan yang membuatmu ingin menghilang ditelan bumi. Coba kamu ingat-ingat kesalahan yang pernah dilakukan. Bagaimana perasaanmu saat dan setelah melakukannya?

26 April 2013

Orang-orang spesial

Sewaktu Kevin Connolly berumur sepuluh tahun, keluarganya membawanya ke Disney World. Connolly menjadi daya tarik utama bagi pengunjung tempat itu. Begitu pula dalam perjalanannya ke berbagai tempat lain. Orang-orang menatapnya, kadang dengan ekspresi heran, mengernyitkan dahi, dan sebagainya, sampai-sampai Connolly sudah terbiasa dengan tatapan orang asing. Pada suatu ketika Connolly mendapat ide untuk memotret wajah orang-orang yang menatapnya dan kemudian 32.000 foto yang dibuatnya, yang menggambarkan portfolio wajah manusia dari 31 negara, ia pamerkan secara online dalam The Rolling Exhibition (www.therollingexhibition.com). Adakah yang bisa menebak, apa yang membuat orang-orang menatapnya?



Kevin Connolly lahir tanpa kaki.

Terkejut membacanya? Ya, saya pun demikian. Tetapi, terkejut karena apa? Karena kondisinya atau karena prestasinya? Kita mungkin merasa kasihan dengan kondisinya. Kita membayangkan bagaimana caranya berjalan tanpa kaki. Tapi lihat, ia mampu mengukir prestasi sebagai fotografer. 

20 Juli 2012

Hidup itu memilih

"Dalam banyak hal, kehidupan itu seperti CD-ROM." (hlm.148)
Seperti permainan video di komputer. Setiap respon, setiap akhir permainan telah diprogram dalam CD.

"Semua akhir permainan telah tersedia." (hlm.147)
Sama halnya dengan hidup.

"Alam semesta hanya menunggu mana yang kamu pilih saat ini." (hlm.147)
Benarlah, hidup itu pilihan. Tak ada keputusan salah, yang ada hanya konsekuensi. Ini mirip, dan diilustrasikan dengan sangat baik, pada buku dongeng anak-anak yang dulu suka kubaca. Ada pilihan pada setiap halaman yang akan membawa kita ke berbagai versi akhir cerita.

23 Maret 2009

Bayangkan Jika

Jika kamu adalah seorang yang penting bagi hidup seseorang,
maka apa yang kamu lakukan sangat berpengaruh bagi orang tersebut
Mungkin saja kamu yang merawatnya ketika sakit
Mungkin kamu yang menemaninya belajar mempersiapkan ujian
Mungkin kamu yang melukai perasaannya dengan bentakanmu
Atau mungkin hanya kamu yang setia mendengarkan keluhannya