Sewaktu Kevin Connolly berumur sepuluh tahun, keluarganya
membawanya ke Disney World. Connolly menjadi daya tarik utama bagi pengunjung
tempat itu. Begitu pula dalam perjalanannya ke berbagai tempat lain.
Orang-orang menatapnya, kadang dengan ekspresi heran, mengernyitkan dahi, dan
sebagainya, sampai-sampai Connolly sudah terbiasa dengan tatapan orang asing.
Pada suatu ketika Connolly mendapat ide untuk memotret wajah orang-orang yang
menatapnya dan kemudian 32.000 foto yang dibuatnya, yang menggambarkan
portfolio wajah manusia dari 31 negara, ia pamerkan secara online dalam The
Rolling Exhibition (www.therollingexhibition.com). Adakah yang bisa menebak,
apa yang membuat orang-orang menatapnya?
Tampilkan postingan dengan label individu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label individu. Tampilkan semua postingan
26 April 2013
Orang-orang spesial
Kevin
Connolly lahir tanpa kaki.
Terkejut membacanya?
Ya, saya pun demikian. Tetapi, terkejut karena apa? Karena kondisinya atau
karena prestasinya? Kita mungkin merasa kasihan dengan kondisinya. Kita
membayangkan bagaimana caranya berjalan tanpa kaki. Tapi lihat, ia mampu
mengukir prestasi sebagai fotografer.
by
mia marissa
at
10:11 AM
0
responses
28 September 2012
Berkompetisi dengan diri sendiri
Satu bulan terakhir ini
kita mendengar sedikitnya dua berita berlabel SARA. Yang gemar
berselancar di dunia maya pasti pernah mendengar tentang film Innocence of Muslims, atau bahkan pernah
melihat cuplikan filmnya via youtube. Menurut berita, film ini menimbulkan pertentangan
di berbagai negara, berwujud aksi protes dan bom bunuh diri yang menewaskan
sejumlah warga masyarakat termasuk seorang duta besar AS di Libya. Pada skala
lokal, pilkada DKI -pemilihan gubernur & calon gubernur DKI Jakarta- yang berlangsung belum lama ini pun “diramaikan” isu SARA
menyangkut identitas calon-calonnya.
by
mia marissa
at
12:40 PM
1 responses
06 Juli 2012
Individualis vs Kolektivis di balik kesuksesanmu
Kesuksesan itu milik siapa?
Bertolak dari judul di atas, orang individualis akan mengatakan sukses itu miliknya. Ia sendiri yang mewujudkannya, tenaga, pikiran, waktu, materi, telah ia curahkan. Orang yang kolektivis mungkin akan mengatakan 'ah..saya sebetulnya tidak bisa apa-apa, itu karena A, si B, waktu C, ada D. Suksesnya tidak dirasakan sebagai milik sendiri. Kata teori, orang individualis melihat kepemilikan sebagai ekspresi dari identitas mereka. Pada orang kolektivis, kepemilikan lebih merupakan indikator identitas kelompok. Kelompok di sini bisa diartikan luas, mulai kelompok kecil pertemanan, keluarga, organisasi, budaya, serta situasi norma yang menyertainya.
Bertolak dari judul di atas, orang individualis akan mengatakan sukses itu miliknya. Ia sendiri yang mewujudkannya, tenaga, pikiran, waktu, materi, telah ia curahkan. Orang yang kolektivis mungkin akan mengatakan 'ah..saya sebetulnya tidak bisa apa-apa, itu karena A, si B, waktu C, ada D. Suksesnya tidak dirasakan sebagai milik sendiri. Kata teori, orang individualis melihat kepemilikan sebagai ekspresi dari identitas mereka. Pada orang kolektivis, kepemilikan lebih merupakan indikator identitas kelompok. Kelompok di sini bisa diartikan luas, mulai kelompok kecil pertemanan, keluarga, organisasi, budaya, serta situasi norma yang menyertainya.
by
mia marissa
at
3:07 AM
0
responses
Langganan:
Postingan (Atom)
Copyright © 2011 la mia opinione
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web

