Pecinta kuliner sering menggunakan ungkapan “cita rasa”. Apa
artinya, hanya pecinta kuliner yang tahu. Kalau begitu saya akan bertanya. Apa
yang membuat sebuah roti bisa mempunyai rasa yang begitu enak? Kita tahu ada
banyak jenis roti. Ada roti gandum yang biasanya berwarna kecokelatan (brown
bread), roti tawar (toast bread), roti Prancis (baguette),
roti Italia yang biasa diolah menjadi pizza, dan berbagai jenis roti lainnya.
Selain itu, di Jerman, terdapat roti tradisional Jerman (brotchen) yang
baru-baru ini diajukan ke UNESCO agar menjadi warisan budaya.
Sejak jaman Mesir
kuno hingga masa sekarang, roti dibuat dari adonan tepung. Ada yang
menggunakan ragi, ada yang tidak. Yang pasti, adonan itu mengalami proses
diaduk, ditekan, digiling, digulung, diregangkan, dan ditekan kembali. Cita
rasa setiap roti menjadikannya berbeda dibandingkan roti-roti lainnya. Anda
yang pernah menonton “Bread, Dream, and Loves”, yang menjadi Drama Korea
Terbaik 2010, mungkin langsung membayangkan gambaran roti lezat yang
dipuja-puja dalam kisah film tersebut.
Kalau begitu, bisakah Anda bayangkan
bagaimana bentuk roti bila adonan tepung hanya diaduk kemudian didiamkan? Oke,
barangkali adonan tetap mengembang menjadi roti karena telah diberi ragi,
tetapi roti yang dihasilkan pasti kurang enak karena tidak lembut. Apa sebab?
Adonan tepung tidak lentur karena tidak digiling, ditekan, diremas, bahkan bila
perlu, dibanting di atas meja dapur. Ya, itulah proses. Itulah yang menjadikan
suatu masakan memiliki cita rasa. Itulah yang menjadikan seseorang memiliki kualitas.
Kita pun seperti adonan itu.
 |
| image: www.savorsa.com |
Bahan yang ditambahkan kepada kita bisa
bermacam-macam. Jika adonan roti ditambahkan filling cokelat,
kismis, mentega, kita pun menerima asupan bahan, baik itu berupa pengetahuan
atau didikan. Setelah mendapat asupan, justru proses tempaan, yang menciptakan
kualitas diri kita, baru dimulai. Tidak selalu proses yang mudah, cepat, dan
nyaman. Kadang perlu melewati kegagalan, penyesalan, makian, cercaan, rasa
sakit, lelah dan peluh, dan sebagainya. Otot kesabaran kita kadang perlu
diregangkan sepanjang-panjangnya. Motivasi kita perlu dipecut sekeras-kerasnya.
Hati benar-benar diremas dengan berbagai emosi. Tetapi, tenang, kawan, semuanya
itu tidak sia-sia. Bahkan menurut saya, kita perlu bersyukur bila mengalaminya.
Bayangkan sebuah ember berisi air dan sebuah danau. Ketika sebuah batu kecil
dilemparkan ke dalam ember, air melonjak bahkan tumpah keluar. Ketika batu itu
dilemparkan ke danau, air hanya beriak kecil. Apa yang berbeda? Permukaan
airnya. Ketika kita memiliki hati yang demikian luas, cemoohan yang sebelumnya
membuat sakit hati, kini tidak berarti apa-apa. Bagaimana permukaan hati kita
bisa bertambah luas? Jawabannya ada pada setiap pengalaman dan proses yang kita
jalani, yang mematangkan diri kita.
Kadang, memang muncul pilihan cara yang lebih instan. Lalu, mengapa tidak
dipilih saja? Masalahnya, cara yang instan tidak selalu menambah kualitas diri
kita. Kita memang memperoleh “hasil”, tujuan kita, dan barangkali juga
menghemat waktu. Akan tetapi, ketika memilih proses, tidak hanya “hasil” yang
kita peroleh, tetapi kita memperoleh bonus “kualitas”.
Kadang saya merasa, pengalaman merupakan
anugerah yang langka. Saya pernah melakukan perjalanan dari ujung ke ujung rel
kereta api demi menyelamatkan sebuah map berisi berkas penting. Dalam waktu 4,5
jam saya bolak-balik stasiun –tentunya dengan menumpang kereta-, dari Bogor ke
Jakartakota, Manggarai, lalu Jatinegara. Saya anggap perjalanan itu seperti amazing
race. Benar-benar dikejar waktu dengan berbagai campuran emosi. Singkat
cerita, map yang tertinggal di Stasiun Bogor pada hari sebelumnya dan menurut
petugas stasiun mustahil ditemukan, ternyata terbawa kereta dan akhirnya
berhasil ditemukan di Stasiun Jatinegara, ±55 km dari Bogor. Penemuan itu
semata-mata karena berkat-Nya. Terlepas dari “hasil” yang saya dapat,
pengalaman itu menempa satu kualitas dalam diri saya. Begini, sejak awal
kehilangan, saya sudah yakin akan menemukan map itu kembali. Akan tetapi
intuisi saya mengatakan bahwa saya perlu melalui proses ini, terutama perasaan
panik sepanik-paniknya. Sempat saya bertanya dalam hati, untuk apa perlu
merasakan semua ini? Muncul pula jawaban, agar saya bisa memahami bagaimana
rasanya orang-orang yang mengalami situasi panik dengan intensitas serupa.
Kelak pemahaman ini akan berguna dalam lingkup pekerjaan saya di bidang psikologi.
Anda sendiri pasti memiliki anugerah pengalaman
masing-masing, yang dengan atau tanpa sadar, telah membentuk kualitas diri
Anda. Kita yang merasa belum menemukan kualitas diri, tidak perlu khawatir.
Adik-adik SMA yang masih mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional, nikmatilah
proses melenturkan adonan mentalitasmu. Ketika belajar dengan sungguh-sungguh,
kamu tidak hanya mempersiapkan kesuksesan tetapi juga mentalitas diri yang
semakin berkualitas.
Seorang kawan pernah bercerita, ada seorang
pemuda mendatangi guru beladiri. Ia minta kepada guru itu agar bisa menjadi
orang bertubuh kuat. Usia pemuda itu 16 tahun, tetapi penampilannya tidak
berbeda dengan anak 14 tahun karena tubuhnya kurus kecil. Guru tersebut
memberinya tugas membelah dan mengangkut kayu setiap hari. Enam bulan lamanya
pemuda itu hanya membelah kayu. Karena bosan tidak pernah berlatih beladiri, ia
protes kepada gurunya. Guru itu menjawab, “Saat kau datang menemuiku, kamu
minta agar dilatih menjadi orang bertubuh kuat. Kini, lihat otot tubuhmu yang
besar dan kuat karena berlatih setiap hari. Kamu sudah mendapatkan yang kamu
minta.” Kita pun demikian, sering meminta kepada Tuhan,
tetapi sering pula merasa bosan dengan prosesnya. Padahal, kita sedang
dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari yang kita minta.
Nikmati prosesnya, Tuhan bersamamu :)