06 Mei 2017

Ide-ide Sekolah Waldorf

Willing-nya besar, thinking-nya kecil. Bagi orang-orang ini, yang penting kerja, langsung eksekusi, ga perlu pikir-pikir dulu, lah. Ada sebutan dalam bahasa Sunda: ‘kumaha engke’. Gimana nanti. Sebaliknya, kalau thinking yang besar, willing-nya kecil, orang-orang ini adalah people with big idea, tapi pelaksanaannya… duh, ini gimana, ya, nanti bagaimana, dst. Orang Sunda bilang, ‘engke kumaha?’ Nah, yang seimbang itu, gambar yang di tengah, seimbang antara thinking dan willing.”


Penjelasan Amanda Andi Wellang bagian ini sepertinya melekat sekali dalam ingatan saya. Barangkali, karena memproyeksikan karakter diri (saya). Ups. Manda, panggilan akrabnya, membuat gambar tersebut untuk memberi penjelasan tentang rhytmic system yang menjadi salah satu dasar filosofi pendidikan Waldorf.

“Sebagai dosen, saya menemukan bahwa problem yang dialami mahasiswa saat ini adalah kurang memiliki pemahaman konsep yang mendalam dan komprehensif, untuk mengaitkan suatu konsep dengan konsep lain. Mereka pintar, bisa menjawab pertanyaan mengenai konsep, tetapi diam saat diminta memberikan contoh. Masalah ini tentunya bukan tiba-tiba muncul saat mereka kuliah, tetapi adalah hasil dari proses belajarnya sejak kecil. Apakah proses belajar mereka sudah tepat?” demikian penuturan Kenny Dewi saat ia pada mulanya tergerak mengadopsi model pendidikan Waldorf, dan kemudian mendirikan sekolah Jagad Alit Waldorf School di Bandung.

31 Maret 2017

Bertanya dalam Senyap (dengan interpretasi dari novel & film "Silence")

Kalau saya, selama dua tahun ini masih meminta penjelasan dari-Nya namun tak kunjung mendapat jawaban yang tuntas, apakah itu berarti Tuhan bungkam? Atau justru saya yang buta dan tuli? Ya, dua tahun lalu, tepat pada tanggal 30 Maret, ia berpulang kepada-Nya. Sejak hari itu sampai hari ini masih bersarang butir-butir pertanyaan dalam benak, tentang mengapa, andai saja, apakah mungkin, dan sebagainya; menelusuri setiap asumsi logis yang mungkin terjadi, yang kemudian bercabang berdaun tanda tanya.

Sebastian Rodrigues, seorang misionaris Yesuit Portugis yang dikisahkan Shusaku Endo dalam novelnya, Silence (terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2017), yang juga difilmkan baru-baru ini; menghadapi pergulatan iman dalam hari-harinya yang semakin sulit pada masa penyiksaan orang Kristen di Jepang pada abad ke-17: “Benarkah Tuhan hanya diam berpangku tangan melihat penderitaan?”

Baru kira-kira satu bulan yang lalu saya membaca novelnya kemudian menonton visualisasinya beberapa hari lalu. Bukan kisah yang mudah diterima akal dan rasa. Kisahnya bukan semata perjalanan misionaris, sejarah, agama baru, mayoritas vs minoritas, pengingkaran iman vs keteguhan iman. Ada suatu rasa yang lebih personal, lebih dalam, tentang hubungan manusia dengan-Nya. Rasa itu, sulit dituliskan, hanya bergetar, menyesak, saat saya membaca kalimat terakhir dalam novel; sama halnya ketika mendengar pemeran Rodrigues menarasikannya. “Tetapi Tuhan kita tidak bungkam. Andai pun Dia bungkam selama ini, kehidupanku sampai hari ini sudah cukup berbicara tentang Dia.” Ia, salah satu pastor yang terpaksa menyangkal iman atas desakan dan ancaman pemerintah Jepang pada masa itu, namun tetap menyimpan imannya rapat-rapat.

Iman dalam senyap. Iman dalam sembunyi. Beriman diam-diam, kalau bisa disebut demikian. Mengutip review-nya The Guardian terhadap film ini, “iman yang tak memerlukan panggung”; iman tidak memerlukan penilaian pun persetujuan orang lain; melainkan jawaban hati. Hanya ia dan Dia yang tahu.

Bahwa ada pribadi yang lemah, yang rela mengingkari iman berkali-kali, seperti Kichijiro dalam kisah tersebut, justru hal ini menunjukkan rahmat-Nya. Ia hanya tak setegar orang lain yang mengorbankan nyawa. Menggenggam imannya sambil memukul dada sendiri. Menelan rasa pahit. Dengan cara itu ia menjalani hidupnya. Dengan cara itu iman tak pernah benar-benar terhapus dari hatinya. Ia hanya tak sekuat para pemberani. Dan iman tetap menjadi rahmat baginya, bagi siapa saja.

Bolehlah saya mengambil makna untuk sementara ini. Ketika seseorang memohon dan berdoa, katakanlah untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik (kesejahteraan, kesehatan, kebahagiaan, dsb), lalu merasa belum juga terkabul permohonannya; jauh melampaui abad sebelum ini, ribuan doa sudah dipanjatkan demi nafas terakhir dan darah yang masih bisa menetes agar Tuhan mengangkat penderitaan tersebut; namun nafas dan darah akhirnya tetap berhenti. Barangkali terlalu jauh membandingkan kehidupan saat ini dengan ratusan tahun lalu, karena ada banyak kenyataan yang juga bisa menjadi cermin sehari-hari.


Dia tidak bungkam terhadap pertanyaan-pertanyaan saya. Saya hanya sedang menelusuri, mengilas-balik, setiap pertanyaan itu bersama-Nya. 

10 Maret 2017

Nou & Tam


“Hei, bangun..! Sudah sepi, saatnya berpesta!”
“Jangan kau cari risiko. Tadi masih kudengar suara pintu dikunci.”
“Nah, itu tandanya mereka semua sudah pergi. Ayo kita cari makanan.”
“Tidak, Nou. Ini belum saatnya. Kita mencari makan hanya pada malam ketika semua sudah tertidur.”
“Kau kuno sekali, Tam. Sekarang ini rumah benar-benar kosong. Tak perlu terpatok malam atau siang untuk cari pengisi perut. Ayo kita keluar.”
“Tapi….hati-hati. Ingat kawan kita terakhir yang masuk perangkap.”

Kaki-kaki Nou dan Tam melangkah cepat keluar dari bawah lemari menuju dapur. Mereka menggigit remah yang bisa dipungut. Berpindah dari satu sudut ke sudut lain. Mengikuti gerak hidung mereka yang menangkap aroma.

Siang itu di luar hujan. Bau rumput dan tanah, yang sebelumnya kering kini mendadak basah, menyeruak masuk ke dalam rumah. Bercampur aroma sisa makanan di dalam keranjang sampah. Bau di udara semakin pekat tercium oleh hidung mereka, hingga kemudian mereka mengenali ada aroma bonggol jagung. Mereka tarik keluar bonggol itu dari keranjang sampah. Sering mereka bekerja sama untuk mengangkat atau membawa makanan. Bukankah itu gunanya persahabatan? Boleh dibilang sudah satu tahun terakhir mereka bersama-sama dan satu minggu terakhir bersama di rumah itu.

Kedatangan mereka di rumah itu sama sekali tidak direncanakan. Memang, mereka suka bepergian ke banyak tempat mengikuti insting mereka, tetapi mereka tidak bisa juga dibilang seperti traveller impulsif. Hanya karena hujan demikian deras pada malam itu dan hingga berjam-jam. Selokan yang biasanya kering dan menjadi tempat perlintasan mereka, malam itu mulai penuh terisi air. Imbasnya, air mulai masuk ke dalam lubang yang menyambung ke suatu tempat di bawah taman. Tempat yang adalah rumah persembunyian bagi Nou, Tam, dan Gin. Ketika banyak rumah dibangun dengan megah menjadi kebanggaan sang empunya, tidak demikian rumah bagi Nou, Tam, dan Gin. Rumah itu, ya tempat sembunyi. Siapa saja pasti setidaknya butuh satu tempat sembunyi. Sembunyi dari keramaian, dari tuntutan, dari pertanyaan dan menikmati keleluasaan menjadi diri sendiri. Bahkan, dalam rumah-rumah yang besar dan luas itu, penghuninya justru merasa nyaman dalam kamar sembunyinya sendiri.  Kalau rumahnya tidak begitu besar, setidaknya mereka yang tinggal bersama mencari dunia pengalih sebagai tempat sembunyi mereka. Kira-kira begitulah yang dimaknai Nou dan Tam ketika mereka mengamati kehidupan manusia.

28 Desember 2016

Kekaguman akhir tahun


“Kamu ikut kegiatan ini karena mau sendiri atau ditunjuk guru?”
“Mau sendiri, mau belajar yang diajarin ini (tentang SiGAP).”

Itu sepotong percakapan saya dengan salah satu anak, yang menjawab dengan malu-malu. Ia dan 74 anak lainnya mewakili 5 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, mengikuti pelatihan SiGAP yang diselenggarakan oleh Save the Children. Kelak mereka dipersiapkan sebagai leader bagi teman-temannya di sekolah untuk membentuk sekolah aman bencana.  Karena itu, mereka dibekali kemampuan komunikasi, sikap positif terhadap diri, dan sikap kepemimpinan dalam pelatihan kemarin.

Berproses dengan anak-anak hampir selalu menimbulkan getar kekaguman. Itu yang saya alami lagi bersama sahabat saya, Dian Nirmala, saat memandu pelatihan untuk mereka. Dari satu permainan sederhana; kami menyebutnya “Berhitung Siaga”, yakni setiap orang menyebut satu angka secara berurutan misalnya 1-38 (karena ada 38 anak), bebas dimulai dari siapa saja, tetapi tidak boleh berbarengan; saya merinding berada di tengah-tengah mereka.  Permainan ini memang cukup bikin kesal ketika ada dua orang atau lebih menyebut angka berbarengan, karena hal itu berarti permainan mesti diulang dari awal. Apalagi kalau sudah mencapai angka belasan atau puluhan. Memang akhirnya mereka berhasil setelah berkali-kali mengulang dari awal dan raut wajah antusias mulai berubah menjadi lemas. Saya ikut deg-degan ketika menunggu setiap angka yang terucap dari mulut-mulut kecil itu perlahan mendekati urutan ke-20, 30, dan…. ah 38!  

Selepas permainan, kami membahas poin-poin pembelajaran. Permainan ini tentang kepekaan dalam berkomunikasi, tetapi kami tidak memberitahukan maksud permainan kepada mereka. Kami tanyakan pendapat mereka tentang kunci keberhasilan permainan ini. Menurut mereka, yang dibutuhkan (dalam komunikasi) adalah tenang, fokus/konsentrasi, dan melihat sekitar. Tenang, agar dapat mendengar suara teman-temannya. Konsentrasi agar tak salah menyebut angka. Melihat sekitar, gerak-gerik teman, agar tahu waktu yang tepat untuk gilirannya bicara.

Tenang, fokus, dan melihat sekitar. Bukankah kalau dipikirkan lagi, tiga hal ini memang dibutuhkan dalam komunikasi kita? Kita perlu tenang agar dapat mendengar dan menyimak dengan jernih, agar tidak mudah tersulut emosi yang membuat kita terburu-buru menilai, menyerobot , menghardik. Fokus dan konsentrasi juga diperlukan, agar tidak salah menangkap informasi, tidak mudah mengabaikan orang yang sedang berbicara, tidak mudah terdistraksi oleh informasi lain dan asumsi. Komunikasi dua orang, tiga orang, sepuluh orang, bahkan lebih, tetap merupakan komunikasi dua arah.  Apa kita cukup memperhatikan situasi sekitar, kondisi orang lain, dan dampak pada orang lain, ketika berbicara? Nyatanya, komunikasi juga tidak terbatas pada bicara, tetapi pernyataan sikap verbal dan nonverbal.

Tiga pembelajaran penting yang saya pelajari dari anak-anak ini. Anak-anak kelas 4, 5, dan 6, yang menyebutkan kekuatan mereka adalah senyum, semangat pantang menyerah, dan niat menolong sesama. Anak-anak, yang sebagian dari mereka tidak mengenal “Moana”, film terbaru Disney tahun ini, dan “Om Telolet Om”, trending topic di jagat media sosial akhir-akhir ini.  


Itu pun baru dari satu permainan. 
Berproses dengan anak-anak memang menimbulkan getar kekaguman. 


10 September 2016

Seramah apa sekolah kita?


Saat melihat gambar di atas, bisa jadi kita mencoba mengingat-ingat di mana pernah melihatnya sebelum ini atau justru sudah amat mengenalinya. Gambar ini ada dalam iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk mengampanyekan Sekolah Ramah Anak (SRA).

Pada 2014 lalu, maraknya kasus kekerasan dan pelecehan mendorong pemerintah untuk membuat konsep sekolah ramah anak. Apakah SRA semata-mata adalah program sekolah tanpa tindak kekerasan? Kebijakan SRA memuat standar pelayanan minimal terkait kesehatan anak sebagai peserta didik, penanganan dan antisipasi keselamatan anak di daerah rawan bencana, dan kebijakan anti kekerasan. Pada dasarnya, Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang aman, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus.

Kita yang tinggal di kota, menyekolahkan anak, atau bersekolah di sekolah swasta atau negeri, mungkin berpikir, konsep sekolah ramah anak bukankah merupakan kewajiban bagi semua sekolah, dan bukankah memang demikian yang sudah terjadi? Bahwa sekolah memiliki bangunan yang kokoh, tersedia berbagai fasilitas yang bersih, memiliki lingkungan nyaman, dilengkapi dengan petugas pelayanan kebersihan, dan siswa juga diajar untuk menjaga kebersihan lingkungan. Bahwa tersedia kantin, perpustakaan, lapangan olahraga,  toilet, taman, beserta sederet kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa. Bahwa petugas keamanan sekolah dengan ramah membantu siswa menyeberang jalan. Lalu, apakah di sekolah yang memiliki jalan berupa tangga, juga tersedia jalur khusus lain yang bisa digunakan oleh anak yang menggunakan kursi roda? Apakah kapasitas ruangan kelas sesuai dengan jumlah anak, memiliki penerangan yang cukup, tersedia tempat sampah dan memiliki tempat cuci tangan dengan air bersih yang mengalir? Apakah kantin memiliki tempat dan peralatan yang bersih untuk pengolahan dan persiapan penyajian makanan, tidak berada di dekat toilet atau tempat sampah, serta makanan dan minuman memenuhi standar keamanan dan kesehatan?