02 Mei 2020
Pendidik Pekerti
Selama kita pernah
menjadi murid, setidaknya ada satu guru favorit yang berjasa dalam perkembangan
pribadi kita. Mereka bisa jadi guru yang lembut dan penyayang, guru yang
humoris, guru yang jenius, atau guru yang killer.
Biasanya yang berkesan untuk jangka panjang bukan materi yang mereka ajarkan,
tetapi karakter guru tersebut yang berdampak pada diri kita.
Satu guru yang termasuk
salah satu top of mind saya adalah Ibu Roslin, guru pelajaran seni musik di
SMP. Beliau terkenal killer, gaung namanya membuat kami tegak siaga, bahkan sampai
kepada kakak-kakak senior kami di SMA yang pernah mengenal beliau. Seperti
suatu sengat yang membuat kami berubah tertib dalam sekejap, entah di ruang
kelas ataupun di lapangan sekolah. Saya pun termasuk kalangan siswa yang duduk
tegang selama mendengarkan pengajaran beliau di kelas, sambil mondar-mandir
atau sesekali duduk di bangku guru, seraya menggenggam penggaris kayu.
Akan tetapi, perasaan
tegang itu berangsur berubah menjadi kekaguman, yang membuat saya justru fokus
mendengarkan wejangan beliau, sehingga banyak pesannya masih saya ingat hingga
hari ini. Saya pun merasa beruntung memiliki waktu tambahan menerima pengajaran
beliau karena saya mengikuti ekstrakurikuler koor (paduan suara) yang diasuh
oleh beliau.
Sekali-kalinya saya
pernah kena tegur langsung adalah ketika tanpa sengaja melangkahi tanaman. Jadi ada
jalan masuk selebar satu meter dan di sebelahnya dijadikan lahan untuk tanaman
hias. Bukannya berjalan di jalan masuk, saya ambil gampangnya saja melangkahi
tanaman hias yang tingginya juga tidak sampai selutut saya. Ibu Roslin ternyata
melihat itu, dan saya ditegur kenapa tidak lewat jalan masuk yang benar dan
malah melompati tanaman. Sebenarnya beliau lebih banyak mengajar budi pekerti
ketimbang seni musik itu sendiri. Untuk materi seni musik, kami diminta pentas
vocal group setiap minggu. Kalau dipikir-pikir sekarang, justru sebenarnya
momen tampil itulah menjadi jam terbang kami melatih kepercayaan diri.
Saya juga heran, apakah
materi budi pekerti itulah yang menarik untuk saya simak setiap minggunya. Misalnya,
ketika mendengarkan guru, kami dilarang keras sebentar-sebentar menengok ke
luar pintu melihat siapa saja yang lewat di sana. Beliau bilang, kalau nanti
jadi pekerja, tidak boleh sebentar ada apa tengok ke luar, ada suara tukang
bakso, suara orang mengobrol, dsb. Kalau dipikir-pikir sekarang, benar juga,
supaya kami fokus dalam belajar dan bekerja. Istilah psikologinya, selective attention, bisa memilah
hal-hal yang menjadi perhatian kita. Yang tidak penting dan tidak relevan, ya
tidak perlu diperhatikan.
Kalau diberi instruksi,
tidak boleh bertanya ulang. Misalnya, ibu meminta tolong, “Nak, ambilkan lap di
dapur.” Lalu, kita jawab, “Lap di dapur?” Wah, bertanya balik macam begini
dilarang keras. Diberi instruksi kok bertanya balik, itu tidak sopan, kurang
lebih seperti itu penuturan beliau. Artinya, lagi-lagi melatih fokus, karena
kalau fokus mendengarkan, tidak perlu bertanya lagi, tetapi langsung
laksanakan.
Khusus untuk koor atau
paduan suara gereja, dilarang keras tengok-tengok ke deretan bangku umat,
kipas-kipas, minum, apalagi mengobrol. Haha, ini terdengar kaku sekali barangkali,
ya. Tapi itulah kekhidmatan yang beliau mau tanamkan kepada kami. Termasuk juga
berjalan dan berdiri dengan tegak, serta posisi memegang buku lagu yang tepat.
Jika berusaha
diingat-ingat, pasti ada banyak sekali ajaran beliau yang mungkin sekarang ini
sudah terinternalisasi ke dalam karakter saya. Tiga tahun mengenal beliau
justru tidak menganggapnya sebagai guru killer,
tetapi saya mengingatnya sebagai guru favorit. Yang juga membuat saya
mengidolakan beliau, karena suaranya yang merdu dan kepiawaiannya menjadikan
suara-suara amatir kami sebagai remaja puber menjadi harmoni yang padu.
Malam ini, berita
mengejutkan itu datang. Ibu Rosalin SB Pareira dipanggil Tuhan pada usia 84
tahun. Enam tahun lalu, 22 Februari 2014, tanpa sengaja saya pernah bertemu beliau dalam acara
tahbisan uskup di Sentul. Beliau masih sehat, gagah, walaupun ingatannya mulai
pudar selama berbincang. Beberapa tahun setelahnya beliau kembali ke kampung
halaman di Ende. Kini jiwanya bernyanyi bersama malaikat di surga. Tepat pada
Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020. Hidup baktinya sebagai pendidik pasti
terus digaungkan melalui karya-karya anak didiknya.
by
mia marissa
at
11:19 PM
1 responses
21 April 2020
“Digital Quotient” (Kecerdasan Digital) Anak ketika Belajar Jarak Jauh
Dengan menguasai aspek kecerdasan digital ini, kita akan semakin mahir berkarya sebagai warga digital
Ayo, siapa saja yang sekolah di rumah? Dengan sistem belajar di rumah ini, banyak sekali penyesuaian yang kita lakukan. Ada yang biasanya bermain bola di lapangan sekolah, sekarang ini cukup di garasi, atau bersepeda di gang depan rumah. Ada yang biasanya memperhatikan penjelasan guru dari bangku deretan belakang, kini bisa melihat wajah ibu atau bapak guru dekat sekali di layar laptop (wah, tidak bisa mengantuk kalau begini).
Selain itu, menyerahkan tugas dan PR cukup dengan dipotret lalu dikirim file-nya. Praktis! Untuk mengerjakan tugas kelompok dan berdiskusi, kita bisa menggunakan aplikasi video conference atau media sosial.
Banyak sekali aktivitas sehari-hari yang beralih ke aktivitas digital dalam beberapa minggu ini. Kalau selama ini internet dan gawai digunakan untuk bermain game, browsing, menonton video Youtube, posting di Instagram, sekarang kita sudah memanfaatkan teknologi dengan lebih luas lagi, di antaranya mengikuti kelas online membuat video tugas, mencari berita, dan bahan belajar lainnya. Wah, semakin terasa menjadi warga digital, ya! Ada istilahnya, nih, digital citizenship.
Menjadi warga di dunia digital yang tergolong baru ini, kita perlu tahu aturan main dan etikanya, agar menjadi warga yang bertanggung jawab. Dengan menjadi warga digital, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak cukup hanya memiliki IQ (kecerdasan akal) dan EQ (kecerdasan emosi), tetapi juga DQ/Digital Quotient (kecerdasan digital).
Apa saja yang dimaksud cerdas digital itu?
Ada delapan poin kecerdasan digital, dijelaskan berikut ini.
- Bisa memilah identitas yang boleh dishare dan tidak. Tujuannya untuk menjaga keamanan diri dan privasi, agar identitas kita tidak disalahgunakan oleh pihak lain. ”Think before you post” karena segala jejak digitalmu akan tersimpan selamanya.
- Menyeimbangkan penggunaan digital (waktu, interaksi riil, dsb). Kita perlu mengelola waktu online dan waktu untuk aktivitas riil sehari-hari, misalnya membantu ibu dan ayah di rumah, bermain dengan kakak atau adik.
- Bisa mendeteksi konten berisiko (cyberbullying, grooming, radikalisasi, pornografi, penipuan). Laporkan atau blokir akun yang mengancam keselamatan diri maupun teman kita.
- Bisa mendeteksi ancaman siber (hacker, scams, dsb). Untuk melindungi akun dan gawai dari ancaman siber, sebaiknya rutin mengganti password, memasang antivirus, dsb.
- Bisa berempati dan berhubungan baik secara online. Yuk, jadi netijen yang sopan, bukan berkata-kata kasar, apalagi cyberbullying. Ingat jejak digital, ya, jangan sampai postingan-mu merugikan masa depanmu.
- Bisa komunikasi dan kolaborasi menggunakan teknologi dan media digital. Pemanfaatan multimedia menjadi keterampilan yang berguna untuk kolaborasi, misalnya mengedit video, menyampaikan presentasi, menulis email dengan tata cara yang baik, dsb. Meskipun bentuk komunikasinya online, etika dan sikap hormat kepada guru dan teman tetap penting, ya.
- Literasi digital, yakni paham cara mendapatkan informasi, misalnya dengan menggunakan mesin pencari, membaca artikel/berita/jurnal, dan bisa mengkritisinya (hoax atau fakta). Ingat, ya, saring dulu sebelum sharing informasi.
- Menghormati hak cipta orang lain, dengan mencantumkan nama pembuatnya ketika kita mengambil atau meneruskan karya tersebut.
Dengan menguasai aspek kecerdasan digital ini, kita akan semakin mahir berkarya sebagai warga digital.
(Artikel pernah dimuat di www.kembalikeakar.com pada 7 April 2020)
by
mia marissa
at
9:42 AM
0
responses
Label: anak warga digital, cerdas digital, digital quotient, literasi digital
Self-Help penangkal stres (karena kabar Covid-19) untuk anak melalui “Imagery”
Stres merupakan kondisi yang wajar dialami setiap manusia ketika mengalami peristiwa atau situasi yang dianggap mengancam dirinya
Hei, mengapa kamu terlihat murung? Apa sedang tidak enak badan? Atau ada perasaan yang tidak nyaman? Oh, tetapi bingung menjawabnya, ya. Untuk membantumu mengetahui kondisi yang sedang dialami, yuk, lihat ciri-ciri berikut dan tandai yang sesuai dengan kondisimu.
- Lelah, inginnya bermalas-malasan
- Mudah marah, kesal, membentak
- Sulit berkonsentrasi mengerjakan tugas
- Moody, cepat berubah dari antusias atau bersemangat ke lesu atau enggan
- Lebih banyak diam, atau menangis
- Merasa takut, tetapi tidak tahu takut apa
- Sulit tidur atau justru mimpi buruk
- Selera makan menurun, atau justru meningkat
- Sakit perut atau sakit kepala, pusing
Apabila kamu mengalami sedikitnya empat ciri-ciri di atas, kemungkinan besar kamu sedang mengalami stres. Stres merupakan kondisi yang wajar dialami setiap manusia ketika mengalami peristiwa atau situasi yang dianggap mengancam dirinya.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami stres. Coba diingat-ingat, siapa yang panik kalau harus memberi tahu orang tua ketika mendapat skor rendah di sekolah? Atau adakah di antara kita yang takut diejek teman ketika potongan rambutnya tidak sesuai yang diharapkan? Pasti ada banyak contoh lain yang pernah kamu alami. Perubahan besar dalam hidup juga bisa memicu stres, misalnya perceraian orang tua, anggota keluarga meninggal, pindah rumah, pindah sekolah, dsb.
Dalam satu bulan terakhir, kita juga sedang mengalami perubahan besar karena pandemi Covid-19, yang membuat kita semua tidak boleh pergi ke sekolah tetapi belajar dari rumah saja. Bahkan sebagian orang tua kita juga bekerja dari rumah. Lalu banyak berita yang datang, tentang bahaya virus ini, kenalan ayah atau ibu yang menjadi pasien Covid-19, berita meninggalnya kakek atau nenek teman, atau bahkan ada orang tua yang harus dirawat di rumah sakit.
Beberapa kawan yang beruntung masih tinggal bersama orang tua mereka, mungkin mengalami stres yang berbeda bentuknya. Setiap hari mereka menyaksikan ayah dan ibu yang resah dan bingung karena situasi ini lalu melampiaskannya dengan kemarahan atau berkonflik ketika melihat anaknya melanggar aturan.
Kalau semua hal ini memenuhi kepala dan hati kita, wajar sekali kita menjadi murung.
Kiat mudah mengurangi stres
Stres itu bukan hal yang buruk, kok. Ketika stres, sebenarnya kita dilatih untuk mencari solusi dengan berpikir dan mengelola emosi. Ada satu cara yang bisa kamu praktikkan untuk mengatasi stres karena beban pikiran. Ikuti tahapnya, ya.
- Bayangkan dua keranjang besar, yang satu bernama Keranjang Tanggung Jawab dan satu lagi bernama Keranjang Kepedulian.
![]() |
| iStock |
- Keranjang Tanggung Jawab artinya tempat hal-hal atau masalah yang menjadi tanggung jawabku. Keranjang Kepedulian artinya tempat hal-hal atau masalah yang aku pedulikan tetapi di luar tanggung jawabku.
- Sekarang, pilah satu persatu masalah yang dipikirkan, apakah masuk ke dalam Keranjang Tanggung Jawabku atau Keranjang Kepedulianku.
Pada contoh tadi, berita tentang kenalan ayah atau ibu yang sakit, meninggalnya kakek atau nenek teman, berita tentang bahayanya virus, serta keresahan ayah dan ibu masuk ke Keranjang Kepedulianku, karena sebagai anak-anak, aku tidak memiliki tanggung jawab dan kewenangan terhadap hal-hal tersebut.
Sementara itu, pelanggaran aturan yang kuperbuat masuk dalam Keranjang Tanggung Jawabku. Kondisi ayah atau ibu yang sakit, yang membuatku harus mengurus keperluan yang bisa kulakukan secara mandiri, menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh, serta mengerjakan tugas sekolah, masuk ke dalam Keranjang Tanggung Jawabku.
Artinya, perhatian kita bisa ditujukan kepada hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita, sedangkan hal-hal lain cukup menjadi bahan kepedulian dan jangan sampai menimbulkan kepusingan.
Semoga kini kamu bisa mengenali penyebab kemurunganmu dan memahami bahwa kondisi stres merupakan hal yang wajar serta bisa diatasi. Akan tetapi, jika kamu butuh bantuan, segera beritahu ayah-ibumu atau orang dewasa yang kamu percaya.
(Arikel pernah dimuat di www.kembalikeakar.com pada 8 April 2020)
Referensi:
How to Spot Stress and Anxiety in Children, Katherine Lee, Updated on June 24, 2019
Identifying signs of stress in your children and teens
How to Spot Stress and Anxiety in Children, Katherine Lee, Updated on June 24, 2019
Identifying signs of stress in your children and teens
Konsep "Circle of Concern and Circle of Influence"
by
mia marissa
at
9:33 AM
0
responses
Label: covid-19, psikologi, self-help, stres anak
18 April 2020
Bertukar Cerita dengan Eyang
Anak-anak bisa mengasah kecakapan sosial mereka melalui percakapan dengan kakek dan nenek.
Masa
“sekolah di rumah” diperpanjang. Apakah ini berita menyenangkan atau kurang
menyenangkan untukmu? Pasti jawabannya beragam. Ada yang senang karena punya
banyak waktu lebih lama bersama ayah bunda, bisa bermain dengan kakak dan adik,
atau bisa bangun lebih siang, barangkali. Ada juga yang tidak senang, karena
mungkin bosan di rumah, sering rebutan barang dengan adik, banyak tugas
tambahan, dan tidak bisa bertemu teman. Apalagi kalau sudah punya teman dekat,
yang kalau di sekolah selalu main bareng dengan mereka, ngobrol bareng, jajan
bareng, olahraga bareng, sampai tiktok-an bareng juga.
Walaupun
tidak bisa bertemu langsung dengan teman, anak-anak jaman sekarang dimudahkan
dengan teknologi. Kamu tetap bisa bercerita dan ‘mabar’ (main bareng) dengan
teman via internet. Ada media sosial, game
online, videocall, dsb. Kesempatan untuk bercanda, bertukar kabar, dan
bermain dengan teman merupakan salah satu hiburan pada masa isolasi ini.
Disadari
atau tidak, kamu belajar banyak tentang kecakapan sosial melalui pertemanan, di
antaranya berkomunikasi, bersabar mengantri, berempati dan peduli terhadap
teman yang kesusahan, menghadapi konflik atau pertengkaran dengan teman, dan
mencari penyelesaian masalahnya. Lalu, selama masa isolasi di rumah, apakah
keterampilan sosial ini akan menurun karena tidak bertemu dengan teman sebaya? Belum
ada jawaban pasti dari ahli psikologi mengenai hal ini, namun mereka
berpendapat bahwa kecakapan sosial anak tidak akan berkurang jauh.
Anak
dan remaja masih bisa bersosialisasi dengan orang tua, kakak, adik, juga teman
secara daring. Saya mengutip pernyataan Jen Blair, seorang psikolog klinis, kepada
Insider, bahwa justru anak-anak mampu
resilien. Resilien artinya lentur beradaptasi pada situasi sulit. Coba, deh, bayangkan
karet yang lentur, bisa ditarik sekencang mungkin dan kembali ke bentuk semula
tanpa putus. Kamu juga bisa lentur dan berhasil melalui masa sulit, asalkan
tetap mau belajar, ya!
Kamu bisa belajar dari Eyang
Bagi
yang masih punya kakek dan nenek, adakah yang pernah videocall, menelepon atau
mengobrol dengan beliau selama masa isolasi ini? Ketika sudah terlalu sering
mendengar dan menonton video selebgram, bagaimana kalau kamu seolah-olah
menjadi youtuber yang mewawancara
kakek atau nenekmu dengan 5 pertanyaan?
Hah, wawancara eyang,
apa asyiknya? Ets, jangan kaget dulu. Ini akan menyenangkan karena kamu bisa
belajar dari seseorang yang usianya empat atau lima kali lipat usiamu, yang
pasti sudah punya banyak sekali pengalaman. Kamu bisa bertanya tentang
pengalaman eyang menghadapi teman yang bikin bete, misalnya.
Supaya
bisa menelepon atau videocall bersama
eyang dengan nyaman, pilih tempat yang tenang untuk mengobrol cukup lama.
Katakan kepada eyang untuk minta waktunya menjawab 3 atau 5 pertanyaan. Sesuaikan
juga dengan kondisi fisik eyang, ya.
Tidak
semua eyang bisa langsung bercerita, kadang eyang bingung cerita dari mana.
Kamu bisa mulai dengan meminta eyang menceritakan tentang kedua orang tuanya.
Berikutnya, bisa menanyakan pertanyaan seperti ini.
·
Siapa nama lengkap
Eyang? Apakah Eyang punya nama panggilan waktu kecil?
·
Apakah Eyang pernah
belajar alat musik, seperti apa belajarnya?
·
Bagaimana caranya
supaya bisa memiliki teman-teman baik?
·
Apakah dulu Eyang
diberi aturan tentang berpacaran?
·
Apakah Eyang pernah
dihukum waktu kecil?
·
Apa pelajaran
favorit Eyang di sekolah?
·
Apa pekerjaan
pertama Eyang?
Respon
eyang bisa berbeda-beda ketika mendapat pertanyaan ini. Dengarkan dulu segala cerita
dan pesannya. Secara umum biasanya eyang akan senang ditanya, tetapi jika ada hal
yang menyinggungnya, segera sampaikan maaf. Dari pengalaman ini, kamu juga
sambil latihan bertutur kata yang sopan, memahami sudut pandang eyang, dan
memberi tanggapan atau komentar dalam percakapan.
Sedikit
informasi, hasil penelitian Marshall Duke dan Robyn Fivush dari Emory University
menyebutkan bahwa anak dan remaja yang mempunyai banyak pengetahuan tentang
sejarah keluarganya, menampilkan kepercayaan diri yang tinggi dan jarang
mengalami kecemasan ketika menghadapi masalah.
Kegiatan
bertukar cerita dengan eyang ternyata memberikan banyak bonus manfaat untukmu,
yaitu mendapat pesan berharga dari pengalaman eyang, melatih keterampilan berkomunikasi
dengan orang yang lebih tua, menambah pengetahuan tentang sejarah keluarga, dan
bisa meningkatkan kepercayaan dirimu. Kecakapan sosialmu bisa tetap diasah
selama masa isolasi ini. Selamat mencoba, ya! Apabila kamu dan orang tuamu ingin
melihat contoh percakapannya, bisa menonton video 57 Years Apart – A Boy and a Man Talk About Life.
(ditulis untuk www.kembalikeakar.com)
Referensi:
Fivush,
Robyn., Duke, Marshall., & Bohanek, Jennifer G. 2010. “Do You Know…” The
power of family history in adolescent identity and well-being. https://ncph.org/wp-content/uploads/2013/12/The-power-of-family-history-in-adolescent-identity.pdf
Lauber,
Rick. 100 Questions to Ask Grandparents. https://homecareassistance.com/blog/questions-ask-elderly-grandparents
Miller, Anna Medaris.
2020. Experts say kids' social skills 'aren't going to fall apart' during a
short-term coronavirus lockdown, but it's unclear what might happen after that.
https://www.insider.com/will-kids-be-developmentally-delayed-from-social-isolation-coronavirus-2020-3
Stasova, L. &
Krisikova, E. 2014. Relationships between children and their grandparents and
importance of older generations in lives of todays’families. EDP Sciences. https://www.shs-conferences.org/articles/shsconf/pdf/2014/07/shsconf_shw2012_00044.pdf
by
mia marissa
at
10:20 AM
0
responses
Label: covid-19, di rumah aja, kecakapan sosial anak, psikologi
17 Maret 2020
kembali ke dalam
Pernah ada masanya
manusia bergerak tanpa batas. Dimudahkan menyeberang kota, melintasi benua.
Oleh satu orang saja,
bisa tercipta lima atau tujuh lebih perjalanan. Ia berkendara ke kantor,
memesankan ikan bakar delivery untuk ibunya
di rumah, memesankan mobil penjemput untuk anaknya, berbelanja minyak sayur
secara online, mengirim paket buku yang
dititip kawan di luar kota, kemudian memanfaatkan tiket promo penerbangan ke Bangkok
esok lusa. Semua perjalanan ini bisa terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
Andaikan kesibukan di
atas terjadi dalam waktu satu jam pada satu orang, bayangkan mobilisasi yang
terjadi dalam satu hari oleh katakanlah satu juta orang yang menempati satu
kota. Lalu kita multiplikasi dengan jumlah kota sibuk yang ada di bumi ini.
Seperti semrawut?
Mungkin.
Pernah ada masanya
manusia bergerak tanpa batas, dalam pikirannya. Memikirkan ini itu, persiapan
nanti dan kelak, mengingat yang sudah dan lampau, menghitung waktu yang segera
dan harus. Semua pemikiran ini bisa terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Belum
lagi emosi yang menghentak, menarik, dan mengguncang. Bayangkan mobilisasi
impuls saraf dalam otak manusia, kita.
Seperti berat, lelah,
jenuh? Mungkin.
Pernah ada masanya manusia
dibatasi ruang geraknya. Berdiam saja dulu, tunggu dulu, sabar dulu. Tunggulah
di dalam. Ibarat penjinak bom, alam sedang mengurai, memilah, memutus
kabel-kabel yang semrawut di luar sana. Mengutip tulisan seorang pastor di
Wuhan yang beredar di grup media sosial beberapa hari lalu, “Semakin sedikit
orang berada di jalan, hanya ada beberapa mobil yang berseliweran, udara
semakin segar, kabut hilang, langit semakin cerah. Orang yang belum membaca
selama bertahun-tahun akhirnya meraih buku di rumah. Orang tua berkomunikasi
dengan anak-anak mereka.”
Pernah mendengar
pandangan mikrokosmos dan makrokosmos? Dalam konteks hubungan manusia dan alam
semesta, mikrokosmos adalah manusianya dan makrokosmos adalah alam, planet,
bintang, galaksi (pembaca yang lebih paham, silakan mengoreksi saya). Keduanya
memiliki koneksi yang erat sehingga apa yang terjadi di makrokosmos akan dirasakan
dan berdampak pada mikrokosmos, begitu pula apa yang terjadi di mikrokosmos
akan berdampak pada makrokosmos. Apa yang semrawut di luar, mungkin cerminan
yang semrawut di dalam. Eckhart Tolle menyebutnya, "You are not IN the universe, you ARE the universe, an intrinsic part of it."
Pernah ada masanya manusia
dibatasi sementara. Diajak untuk #dirumahaja. Ajakan yang bisa dimaknakan
#kembalikedalam memeriksa, mengurai, memilah yang penting dan tak penting, memutus
pikiran yang membebani, membenahi hal-hal yang selama ini ditunda, menghirup
udara segar, memperhatikan yang sering terlewat begitu saja. Apa yang
menyehatkan di alam mikro, menyehatkan di alam makro.
by
mia marissa
at
9:44 AM
0
responses
Label: 2020, dirumahaja, hidup, social distancing
Langganan:
Postingan (Atom)
Copyright © 2011 la mia opinione
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web

