07 Maret 2015

Semua bermula

Semula, tujuan liburan kami adalah Taman Nasional Baluran. Sebelum berangkat saja, destinasi kami sudah meluas hingga Bali. Apalagi di Banyuwangi, kami singgahi juga Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri. Sayangnya, belum ada yang memberi kami gelas cantik atau payung cantik karena melancong ke tiga taman nasional sekaligus.

Semula, hari pertama untuk wisata kota Surabaya. Lalu secara spontan –atau memang terencana? :p- kami bertolak ke Bengkalan, Madura dan mencicipi Bebek Sinjay yang fenomenal itu. Perubahan spontan –atau impulsif?- ini tak berhenti di sini. Masih dengan sisa-sisa kesadaran setelah hampir 24 jam tidak tidur, kami mendapat tawaran dari pemandu kami untuk menjelajah Teluk Hijau dan Pulau Merah. Yap, jadwal dan rute perjalanan yang sudah kami buat serapih bikinan agen perjalanan wisata, kami tinggalkan, dan membiarkan diri kami dipandu oleh perjalanan itu sendiri.  

01 Februari 2015

Surat Semangat



Senang sekali, surat semangat ini sampai juga di tangan anak-anak SD Inpres di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur melalui Senza Arsendy, salah seorang pengajar muda program Indonesia Mengajar. 
Gambar ini, bisa dibilang sebagai replika surat tersebut, saya tampilkan di sini, agar semangat, keceriaan, atau apapun rasa senang yang dirasakan saat membacanya, dapat menular kepada siapapun yang membacanya :)


salam semangat,
Mia Marissa Kumala
awal tahun 2015



PK, sepotong resensi

Kehilangan barang berharga. Ke mana akan mencarinya? Orang-orang di sekitar, tidak melihat. Pusat informasi, apabila kehilangannya terjadi di tempat umum, tak memberi kabar. Bagian keamanan atau polisi, tidak juga menemukan. Orang pintar alias cenayang, barangkali? Tak berhasil. Ke mana akan mencarinya?

“Tanyalah pada Tuhan.” “Hanya Dia yang bisa memberi jawaban.” Ada pula yang tertawa nyinyir, “Hahaha… Mana kutahu? Berdoa saja.”

Sekarang, kata “barang berharga” bisa kauubah, misalnya dengan “uang”, “kesehatan ginjal”, “penglihatan”, “keceriaan anak”, “kasih sayang orangtua”, “kekasih”, “kekuasaan”, “pekerjaan”, “tempat tinggal”, “harapan”, dan lain sebagainya yang bernilai untukmu, lalu tanyakan kembali pertanyaan di atas. Apakah juga akan berujung pada saran serupa?

30 Januari 2015

Belajar (2)

Pekik kegirangan itu mengejutkanku. Bukan, bukan dari seorang anak kecil. Suara itu berasal dari seorang paruh baya, yang usianya hampir mendekati usia ibuku. Apa sebab? Beliau baru saja berhasil menuangkan pikirannya ke dalam baris-baris paragraf.

Mundur ke beberapa menit sebelumnya, ada semburat sayu pada matanya. Lelah, sudah pasti. Jenuh, apalagi. Itu akumulasi perjalanan penelitiannya 3 tahun terakhir. Kini, ia sudah ada di penghujung. Sebagai hiperbolis, bolehlah kusebut tinggal sejengkal lagi menuju gelar doktornya.

03 Januari 2015

Permintaan apakah yang tepat?

Hari ketiga, bulan pertama, tahun baru. Masih hangat dengan resolusi, permintaan, dan harapan yang baru.

Adakah manusia terlepas dari permintaan? Sejak lahir kita hidup berdampingan dengan permintaan. Permintaan menjadi tanda geliat kehidupan manusia. Bayi yang menangis minta susu atau menangis karena kepanasan, yang jelas ia minta orang dewasa melakukan sesuatu terhadapnya, agar ia kembali nyaman, agar ia bisa mengatasi ketidakseimbangan tubuhnya.