Membuka-buka folder lama dan menemukan tulisan lama, sebuah artikel yang saya buat lima tahun lalu, tertanggal 5 Januari 2008. Pada awal penulisannya, secara khusus artikel ini ditujukan kepada mahasiswa S1 Psikologi, tetapi tampaknya tulisan ini juga dapat dinikmati oleh pembaca yang tertarik dengan penelitian sosial. Maka, inilah dia.. Mari!
18 April 2013
Sebuah analogi
*****
Fenomena dianalogikan seperti bola mengambang di udara dan Kamu
punya beragam sarung tangan untuk menyentuhnya. Ada sarung tangan warna psikoanalisa, sarung tangan warna behavioristik, sarung tangan warna humanistik. Dari warna-warna itu, sarung tangannya
beraneka macam lagi, ada sarung tangan cognitive
theory, sarung tangan Piaget, sarung
tangan Fishbein theory, sarung tangan Maslow, sarung tangan persepsi,
sarung tangan fenomenologi, dan masih banyak
lagi.
by
mia marissa
at
6:15 AM
0
responses
Label: penelitian, psikologi, skripsi
15 Maret 2013
Spiritualitas?
Ada percakapan seorang manusia dengan Tuhan*.
Manusia
: Aku selalu diajari untuk takut kepada Tuhan.
Tuhan
: Aku tahu. Dan sejak itu hubunganmu dengan-Ku menjadi lumpuh. Hanya dengan
berhenti merasa takut kepada-Ku, kamu akan dapat menciptakan relasi yang
berarti dengan-Ku. Kamu harus bebas dari rasa takut sehingga kamu dapat
memiliki keberanian untuk memasuki pengalamanmu sendiri tentang Tuhan.
Apakah kita juga takut kepada Tuhan? Saya hampir yakin 100%
bahwa kita pernah diajarkan demikian. Maka saya pribadi sesungguhnya terkejut
membaca cuplikan percakapan di atas. Seperti membalik logika berpikir. Rasa takut membuat hubungan manusia dengan
Tuhan menjadi lumpuh. Tapi... ya, masuk akal juga. Ketika takut, bukankah
kita biasanya menjauhi sosok yang kita takuti itu? Atau malah membuat kita
melakukan ajaran-Nya dengan terpaksa?
by
mia marissa
at
9:14 PM
0
responses
Label: Conversations with God, spiritualitas
22 Januari 2013
Self-efficacy in learning
Alvin Toffler, an
American writer and futurist, stated, “The illiterate of 21st
century will not be those who can not read and write but those who cannot
learn, unlearn, and relearn”. It is about the future human in information age. The
Information Age, also commonly known as the Digital Age, is an idea that the
current age will be characterized by the ability of individuals to transfer
information freely, and to have instant access to information that would have
been difficult or impossible to find previously. It is assumed that all people
in the world are able to read and write. Ironically, in the present day we
still face a number of illiterate. According to data from UNESCO’s Institute
for Statistics (2011), 793 million adults –most of them girls and women- are
illiterate.
Indonesia, and eight other countries (Bangladesh, Brazil, China, Egypt, India,
Mexico, Nigeria, and Pakistan) are home to over two-thirds of the world’s adult
illiterates and more than half the planet’s out-of-school children.
In West Java, Indonesia,
specifically in Jatinangor, I found a group of 30-40 year old illiterate women
who learned to read and write. Everyday after finishing their housework, they
gathered at one member’s home and started the class. In another location, I
found a group consists of young adults aged 18-21 who dropped out of high
school. They dropped out because of lack of financial support. Then they
continued to study in a non formal school, which free of charge, named Kejar
Paket C (Study Group Package C) at PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat or community
learning centre) Linuhung. Study Group Package C is a non-formal education program
organized by Department of National Education Indonesia which equivalent to
senior high school. Either the first group (illiterate women) or the second
group (dropout students) is a group of learner, no matter how old they are. It
is argued that they had something motivated them to learn, to achieve, to
succeed. What kind of psychological state that underlies and affects the learning
process?
by
mia marissa
at
11:22 PM
0
responses
Label: dropout, education, learning, non formal school, pendidikan, psikologi, self-efficacy
Sekolah Ayah Edy
Kamis pagi pekan lalu (17/1) dengan rintik hujan yang kadang menjadi deras-gerimis-deras kembali, tak bisa dibedakan apakah itu pagi atau sore hari. Matahari tak tampak, semua warna berselimut kelabu. Di Jakarta tersiar berita bahwa hari itu menjadi hari cuti bersama karena banjir telah menjangkau pusat kota. Sebagian commuter dari Bogor turut merasakan dampaknya. Namun berita tersebut tidak berpengaruh banyak pada saya yang sedang libur semester, walaupun tetap saja terkejut menyadari banjir yang meluas pada hari-hari berikutnya.
Hari itu sebagaimana telah direncanakan dari satu minggu sebelumnya dan diniatkan sejak satu tahun sebelumnya –hehehe..sebegitu lamanya, ya-, saya berkunjung ke sekolah milik Ayah Edy, bernama STAR International. Sekolah ini merupakan prasekolah –meliputi childcare, playgroup, dan kindergarten- yang menerapkan kombinasi konsep internasional dalam sistem pendidikan dan program pembelajarannya, di antaranya multiple intelligence, holistic learning, character building, dan entrepreneurship.
by
mia marissa
at
11:02 PM
9
responses
Label: ayah edy, learning, multiple intelligence, pendidikan, psikologi
28 September 2012
Berkompetisi dengan diri sendiri
Satu bulan terakhir ini
kita mendengar sedikitnya dua berita berlabel SARA. Yang gemar
berselancar di dunia maya pasti pernah mendengar tentang film Innocence of Muslims, atau bahkan pernah
melihat cuplikan filmnya via youtube. Menurut berita, film ini menimbulkan pertentangan
di berbagai negara, berwujud aksi protes dan bom bunuh diri yang menewaskan
sejumlah warga masyarakat termasuk seorang duta besar AS di Libya. Pada skala
lokal, pilkada DKI -pemilihan gubernur & calon gubernur DKI Jakarta- yang berlangsung belum lama ini pun “diramaikan” isu SARA
menyangkut identitas calon-calonnya.
by
mia marissa
at
12:40 PM
1 responses
Langganan:
Postingan (Atom)
Copyright © 2011 la mia opinione
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web
