15 Maret 2013

Spiritualitas?


Ada percakapan seorang manusia dengan Tuhan*.
Manusia : Aku selalu diajari untuk takut kepada Tuhan.
Tuhan : Aku tahu. Dan sejak itu hubunganmu dengan-Ku menjadi lumpuh. Hanya dengan berhenti merasa takut kepada-Ku, kamu akan dapat menciptakan relasi yang berarti dengan-Ku. Kamu harus bebas dari rasa takut sehingga kamu dapat memiliki keberanian untuk memasuki pengalamanmu sendiri tentang Tuhan.

Apakah kita juga takut kepada Tuhan? Saya hampir yakin 100% bahwa kita pernah diajarkan demikian. Maka saya pribadi sesungguhnya terkejut membaca cuplikan percakapan di atas. Seperti membalik logika berpikir. Rasa takut membuat hubungan manusia dengan Tuhan menjadi lumpuh. Tapi... ya, masuk akal juga. Ketika takut, bukankah kita biasanya menjauhi sosok yang kita takuti itu? Atau malah membuat kita melakukan ajaran-Nya dengan terpaksa? 


22 Januari 2013

Self-efficacy in learning



Alvin Toffler, an American writer and futurist, stated, “The illiterate of 21st century will not be those who can not read and write but those who cannot learn, unlearn, and relearn”. It is about the future human in information age. The Information Age, also commonly known as the Digital Age, is an idea that the current age will be characterized by the ability of individuals to transfer information freely, and to have instant access to information that would have been difficult or impossible to find previously. It is assumed that all people in the world are able to read and write. Ironically, in the present day we still face a number of illiterate. According to data from UNESCO’s Institute for Statistics (2011), 793 million adults –most of them girls and women- are illiterate.  Indonesia, and eight other countries (Bangladesh, Brazil, China, Egypt, India, Mexico, Nigeria, and Pakistan) are home to over two-thirds of the world’s adult illiterates and more than half the planet’s out-of-school children.
In West Java, Indonesia, specifically in Jatinangor, I found a group of 30-40 year old illiterate women who learned to read and write. Everyday after finishing their housework, they gathered at one member’s home and started the class. In another location, I found a group consists of young adults aged 18-21 who dropped out of high school. They dropped out because of lack of financial support. Then they continued to study in a non formal school, which free of charge, named Kejar Paket C (Study Group Package C) at PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat or community learning centre) Linuhung. Study Group Package C is a non-formal education program organized by Department of National Education Indonesia which equivalent to senior high school. Either the first group (illiterate women) or the second group (dropout students) is a group of learner, no matter how old they are. It is argued that they had something motivated them to learn, to achieve, to succeed. What kind of psychological state that underlies and affects the learning process?

Sekolah Ayah Edy



Kamis pagi pekan lalu (17/1) dengan rintik hujan yang kadang menjadi deras-gerimis-deras kembali, tak bisa dibedakan apakah itu pagi atau sore hari. Matahari tak tampak, semua warna berselimut kelabu. Di Jakarta tersiar berita bahwa hari itu menjadi hari cuti bersama karena banjir telah menjangkau pusat kota. Sebagian commuter dari Bogor turut merasakan dampaknya. Namun berita tersebut tidak berpengaruh banyak pada saya yang sedang libur semester, walaupun tetap saja terkejut menyadari banjir yang meluas pada hari-hari berikutnya.

Hari itu sebagaimana telah direncanakan dari satu minggu sebelumnya dan diniatkan sejak satu tahun sebelumnya –hehehe..sebegitu lamanya, ya-, saya berkunjung ke sekolah milik Ayah Edy, bernama STAR International. Sekolah ini merupakan prasekolah –meliputi childcare, playgroup, dan kindergarten- yang menerapkan kombinasi konsep internasional dalam sistem pendidikan dan program pembelajarannya, di antaranya multiple intelligence, holistic learning, character building, dan entrepreneurship.

28 September 2012

Berkompetisi dengan diri sendiri



Satu bulan terakhir ini kita mendengar sedikitnya dua berita berlabel SARA. Yang gemar berselancar di dunia maya pasti pernah mendengar tentang film Innocence of Muslims, atau bahkan pernah melihat cuplikan filmnya via youtube. Menurut berita, film ini menimbulkan pertentangan di berbagai negara, berwujud aksi protes dan bom bunuh diri yang menewaskan sejumlah warga masyarakat termasuk seorang duta besar AS di Libya. Pada skala lokal, pilkada DKI -pemilihan gubernur & calon gubernur DKI Jakarta- yang berlangsung belum lama ini pun “diramaikan” isu SARA menyangkut identitas calon-calonnya.

28 Agustus 2012

Goede morgen Oma!

Merawat anak kecil menumbuhkan harapan. Setiap hari baru, setiap bulan baru, setiap kali ia menguasai suatu kemampuan baru, ada sukacita, kegembiraan, dan harapan, melihatnya semakin terampil, semakin sehat, semakin cerdas. 

Merawat lansia tak berbeda dengan merawat anak kecil, kecuali bahwa setiap tahun, setiap bulan, setiap hari menumbuhkan kewaspadaan, kekhawatiran, tentang kemampuan apa yang perlahan hilang. 

Menghadapi pertanyaan bertubi-tubi dan berulang dari seorang balita menumbuhkan harapan dan keyakinan bahwa ia semakin pandai.

Menghadapi pertanyaan berulang dari seorang lansia menghadirkan kecemasan akan degradasi apa lagi yang kelak dialaminya.